Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Insan Temukan Festival sebagai Media Komunikasi Baru

Kondisi geografis Kabupaten Sumenep yang berada di ujung Pulau Madura menjadikannya berbeda dengan daerah wisata seperti Banyuwangi, Bali dan Jogja. Meski demikian, saat ini Sumenep mempunyai daya tarik wisata tersendiri dengan munculnya festival-festival baru yang dikemas dalam program Visit Sumenep. Hal ini menarik perhatian Dosen Prodi Ilmu Komunikasi-Mohammad Insan Romadhan, S.I.Kom., M.Med.Kom., “Daerah lain bisa dilalui jika ingin pergi ke tempat tertentu. Contoh jika ke Bali, bisa mampir dulu ke Banyuwangi. Sedangkan kondisi geografis Sumenep tidak bisa seperti itu, orang yang pergi ke Sumenep pasti orang yang bertujuan secara khusus ke Sumenep. Dari situ saya ingin tahu kok budaya Sumenep bisa dikenal sangat luas.”

Ketertarikan Insan tersebut dituangkan dalam penelitian bertajuk ‘Pemanfaatan Festival sebagai Media Komunikasi dalam Upaya Cultural Branding Budaya Lokal kepada Generasi Millenial di Sumenep’. Penelitian yang mendapatkan Hibah dari Perguruan Tinggi ini dilakukan selama 6 bulan. “Saya berdiskusi dengan Dinas Pariwisata setempat dan diberi data untuk melakukan penelitian. Total saya berkunjung 4 kali ke Sumenep untuk mengambil data, salah satunya saat Festival Karapan Sapi,” kata dosen yang juga menjabat Bagian Mutu TUK Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Di Sumenep, dosen berkacamata ini meneliti bagaimana media alternatif bisa digunakan untuk mencitrakan kembali atau membangun kembali (re-branding) budaya yang lama. Pasalnya di Kabupaten Sumenep banyak budaya yang dikemas dalam festival. Insan menerangkan, “Bicara mengenai branding, ada banyak cara membangun kesan, karena branding berkaitan dengan kesan. Salah satunya dengan hiburan. Dari yang saya teliti di sana, festival-festival ini kecenderungannya untuk menunjukkan sebuah hiburan.”

Pesan melalui media festival ini, tambah Insan, diharapkan bisa tertanam pada persepsi publik. Misalnya Festival Tong-Tong yang berusaha membangun musik tradisional untuk dikenalkan ke masyarakat luar. Sampai banyak orang mancanegara yang datang untuk. Ada pula keris yang dituangkan ke dalam festival ketika ada kapal bersandar. “Kembali lagi, masyarakat mancanegara tertarik dengan Festival Keris. Ini masuk ke city branding, secara tidak langsung mereka ingin mem-branding kembali Sumenep sebagai Kota Keris,” tutur Insan.

Uniknya, Dinas Pariwisata Kabupaten tidak menggunakan media sosial sebagai media untuk branding. Dari penelitian tersebut, Insan menemukan bahwa siklus penggunaan media komunikasi kembali berubah. “Media online bukan lagi anti mainstream, wong semua orang pakai itu kok. Itu menjadi hal yang biasa. Sebelumnya ada media konvensional. Sebelumnya lagi ada media alternatif. Mungkin eranya kembali ke situ lagi, walaupun berkembang luas melalui online,” paparnya. Hasil penelitian Insan tersebut menyimpulkan bahwa media festival menjadi hal pertama sebelum di-publish melalui media online. (um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda