Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Fakultas Ilmu Budaya Sambut Doktor Baru

Jumat, (28/6) menjadi momen bahagia bagi Dr. Pininta Veronika Silalahi, M.Pd. Pasalnya, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus (UNTAG) Surabaya ini berhasil menyandang gelar Doktor Bahasa dan Sastra dari Universitas Negeri Surabaya. Dalam disertasi berjudul Signifying the Signs in the Wedding Ceremony of Prince William and Catherine Middleton, Pininta meneliti tentang tanda-tanda dalam pernikahan bangsawan Pangeran William dan Catherine Middleton dengan menggunakan Teori Semiotika. Penelitian dilakukan pada video dengan narasi yang secara resmi diproduksi BBC dengan ijin dari Ratu Elizabeth II.

Penelitian ini berawal dari pengamatan Pininta yang memandang bahwa pernikahan di Kerajaan Inggris pada 2011 silam sebagai tradisi yang luar biasa. “Pernikahan Pangeran William dan Catherine Middleton merupakan sebuah perayaan dan kebiasaan tradisi yang dipertahankan selama 350 tahun. Satu hal yang sangat luar biasa. Apalagi kita bisa melihat kereta kuda yang berusia 300 tahun ditampilkan, artinya dirawat dengan baik,” terangnya. Melalui disertasinya ini, Pininta ingin menguraikan bagaimana tanda-tanda ikonik,  indeksikal dan simbolik membentuk makna. Dia ingin menjelaskan tradisi perkawinan bangsawan dan kebangsawanan ditunjukkan melalui tanda-tanda.

Hasilnya, dia menemukan tanda-tanda dalam bentuk ikon, indeks dan simbol, tetapi didominasi tanda indeks. Dijelaskan oleh Pininta, “Ada lima tanda yang ditemukan dalam tanda ikon dan indeks serta ada empat bentuk tanda yang digolongkan pada tanda ikonik, indeksikal dan simbolik. Banyak tanda-tanda indeks meliputi: penyambutan, pernikahan,  antusiasme, identitas, kebangsawanan, kegembiraan, lingkungan hidup, penghormatan, tugas, keingintahuan, penampilan, pilihan, keilahian, tradisi.” Dia menambahkan,  “Temuan juga menunjukkan bahwa representamen yang sama mengacu ke objek yang berbeda yang tentu saja menghasilkan interpretant yang berbeda. Ikon yang ditemukan bukan merupakan tiruan asli bendanya tetapi merupakan analogi diantara hubungan dari suatu  bagian.”

Dengan gelar Doktor Bahasa dan Sastra yang disandang, Pininta tidak akan berhenti belajar dan berkarya. “Saya berharap bisa menulis lebih banyak terutama tentang budaya Batak. Memang sudah ada yang menulis, tetapi tidak mengkaji secara ilmiah. Saya ingin mengangkat dan menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tentunya dengan Bahasa Batak, agar bisa menjadi warisan budaya,” harap Pininta. Ke depan dia mengajak mahasiswa meneliti budaya. Dia pun ingin mengajak agar mahasiswa meneliti berita aktual dengan menggunakan kajian bahasa agar bisa melahirkan penelitian baru. (um/aep)

Login dengan Username dan password Siakad Anda