logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Bantu Ekonomi Warga Desa Rejosari, Dosen Prodi Arsitek Bentuk Kampung Noto Cacing.

Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan ekonomi masyarakat, termasuk petani dan peternak di Desa Rejosari, Jombang. Menjawab hal tersebut, Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengembangkan ‘Kampung Noto Cacing’ yang diketuai oleh Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik - Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T. “Kami melakukan pengabdian masyarakat berupa penataan tempat budidaya teintegrasi untuk meningkatkan kapasitas produksi peternakan cacing di Desa Rejosari,” katanya.

Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat Desa Rejosari, salah satunya Sukarnoto yang merupakan peternak cacing dari Kelompok Tani Rejosari. Dalam melaksanakan pengabdian masyarakat yang meraih Pendanaan Hibah Perguruan Tinggi (HPT) Untag Surabaya ini Febby didampingi oleh Dosen Prodi Teknik Informatika - Ardy Januantoro, S.Kom., M.MT. serta melibatkan tiga mahasiswa, yakni: Putri Dwi Adhiarisme, Ahmad Bayu Priyatna dan Moch Roub Abidin. “Di Desa Rejosari banyak kotoran sapi yang dibuang bahkan mencemari sungai, padahal kotoran sapi dapat bernilai ekonomi jika diolah salah satunya melalui budidaya ternak cacing,” terang Febby.

Selain keterbatasan lahan untuk pengembangan juga menjadi permasalahan, masyarakat mengalami juga permasalahan seperti pertumbuhan anakan dan indukan tidak maksimal, sehingga mengalami kerugian penjualan kascing (red: salah satu pupuk organik terbaik berupa kotoran cacing yang sudah dikeringkan) karena juga masih mengandung kokon atau anakan cacing. Di samping itu, limbah kotoran sapi sebagai pakan tidak diolah terlebih dahulu sehingga nutrisinya kurang maksimal.”

Meski keterbasan lahan yang menjadi salah satu kendala, namun itu tidak menyurutkan niat Febby dalam mengembangkan ekonomi Desa Rejosari ini. “Selama ini ada kendala namun bingung bagaimana menyelesaikannya. Warga juga ingin mengembangkan di lahan kosong yang dimiliki namun bingung bagaimana penataannya yang baik dan efisien,” tuturnya. Febby berharap, semoga kegiatan ini tidak berhenti sampai disini dan ada kegiatan lanjutan kedepannya baik kegiatan pendampingan atas yang sudah dilaksanakan maupun kegiatan baru yang akan dibuat. Timnya menawarkan desain tempat budidaya yang diimplementasikan di lahan pengembangan mitra. “Desain arsitektural terintegrasi meliputi Noto Indukan, Noto Anakan, Noto Pakan hingga Noto Limbah yang diharapkan bisa mengatasi permasalahan yang ada,” paparnya. Febby dan tim juga melakukan peningkatan kapasitas produksi budidaya cacing dan kascing yang dihasilkan.

Febby dan timnya juga berencana akan melakukan evaluasi hingga enam bulan terkait kuantitas dan kualitas budidaya cacing yang dihasilkan pada tempat budidaya baru yang telah dirancang. “Kami juga akan melakukan kegiatan pengabdian lanjutan di semester berikutnya terkait dengan pengolahan produk olahan cacing dan kascing,” ujarnya. “Semoga usaha mitra semakin berkembang dan maju serta memberikan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat sekitar,” harap Febby dan timnya. (ist/um/rz)



PDF WORD PPT TXT