logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Untag Surabaya Salah Satu Mitra Terpilih, Dispendik Luncurkan Surabaya Mengajar

Kebijakan ‘Merdeka Belajar, Kampus Merdeka’ semakin digencarkan pemerintah, termasuk Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan yang meluncurkan program ‘Surabaya Mengajar’. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menjadi salah satu perguruan tinggi mitra terpilih dalam program tersebut.

Bertempat di Convention Hall Jalan Arief Rahman Hakim, peluncuran dilakukan oleh Walikota Surabaya serta dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI dan beberapa pimpinan universitas yang telah dipilih.

Sekretaris Diktiristek Kemendikbudristek - Prof Tjitjik Sri Tjahjandarie mengapresiasi inisiasi program Surabaya Mengajar karena sinergitas yang dibangun. “Dengan sinergisme ini saya berharap adik-adik mahasiswa bisa semakin luas dan bisa mengenal laboratorium kehidupan yang sesungguhnya,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Walikota Surabaya - Eri Cahyadi berterima kasih kepada perguruan tinggi mitra. “Di masa pandemi COVID-19, saat semua tenaga kesehatan berjibaku, perguruan tinggi ikut membantu hingga akhirnya saat ini Surabaya level satu. Jadi, program Surabaya Mengajar ini bukan yang pertama kami bersinergi dengan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Isrida Yul Arifiana., M.Psi., Psikolog yang terpilih sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Surabaya Mengajar menuturkan bahwa Untag Surabaya dipilih sebagai mitra guna memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk belajar. “Melalui program Surabaya Mengajar ini, ada 63 SMP dan ratusan SD yang akan menjadi lokasi mengajar bagi mahasiswa,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon. Isrida menjelaskan bahwa program tersebut senada dengan permasalahan pendidikan di Kota Surabaya. “Dispendik melihat peluang untuk mensinergikan pemerintah dengan perguruan tinggi karena ada kebutuhan di lapangan terkait tenaga pengajar (guru),” jelasnya.

Isrida menyebutkan bahwa Fakultas Psikologi Untag Surabaya akan menerjunkan mahasiswa pada program tersebut. “Program ini memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk terjun ke lapangan dan berperan sebagai pengajar pada jenjang pendidikan SD dan SMP. Total ada 17 mahasiswa yang diterjunkan mulai 4 April mendatang dan rencananya berakhir pada akhir Juni,” sebutnya. Dia melanjutkan bahwa Dispendik Kota Surabaya berperan memfasilitasi pilihan sekolah untuk lokasi Surabaya Mengajar. “Lokasi menyesuaikan akses transportasi, sehingga mempertimbangkan jarak rumah dan sekolah. Paling jauh 4 km dan maksimal 10-15 menit dari rumah ke sekolah,” terangnya.

Sementara itu, Fakultas Psikologi Untag Surabaya memiliki empat bentuk kegiatan pengajaran (BKP). Mahasiswa dapat memilih mengajar, riset, magang atau proyek kemanusiaan. Menurut Isrida, program Surabaya Mengajar sangat memudahkan Fakultas Psikologi Untag Surabaya dalam menentukan tempat mahasiswa dapat mengajar ataupun melakukan asistensi pendidikan. “Tentu ini juga kemudahan bagi kami untuk menempatkan mahasiswa ketika mau mengajar ataupun asistensi pendidikan,” tuturnya.

Pada program Surabaya Mengajar, DPL berperan untuk memberikan bimbingan pada mahasiswa. “Kami memberikan pendampingan dan pembimbingan pada mahasiswa terkait apa yang perlu dikerjakan dan harus ada yang dilaporkan,” ujarnya. Isrida menambahkan bahwa Dispendik Kota Surabaya juga turut memberikan pembekalan dan pengarahan bagi mahasiswa yang terpilih.

Isrida menyoroti dampak positif yang akan didapatkan oleh mahasiswa sebagai peserta. “Dengan terjun ke lapangan, mahasiswa bisa lebih belajar real skill sebagai guru dan tenaga pengajar. Mereka bisa belajar persoalan di lapangan, penyelesaiain masalah, kerjasama dengan guru. Ada manfaat knowledge dan skill, baik hard skill maupun soft skill,” ungkapnya.

Isrida berharap, program ini dapat diminati oleh mahasiswa. “Walau dari fakultas non pendidikan mahasiswa bisa belajar di lapangan. Ada hal yang bisa dilatih seperti empati, jiwa sosial dengan berperan sebagai guru. Harapan ke depan kegiatan ini banyak diminati mahasiswa dan diharapkan kontinyu,” tutup Isrida. (um/rz/kr)



PDF WORD PPT TXT