logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Tercepat di Dunia, PSKIK Untag Surabaya Raih Adaptation Fund

Visi untuk mewujudkan ketahanan kota terus diwujudkan oleh Pusat Studi Ketahanan Iklim dan Kota Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui upaya pendampingan masyarakat lokal. Salah satunya adalah transformasi ruang publik Kota Samarinda yang rawan banjir, sukses meraih pendanaan Adaptation Fund 2021-2023 lebih dari  Rp10 Miliar ini diketuai oleh Dr. Ir. Hj. RA. Retno Hastijanti, MT., IPU dengan anggota Dr. Andarita Rolalisasi, MT.; Muhammad Faisal, ST., MT.; Intan Kusumaningayu, ST., MT. dan Tigor Panjaitan, S.T., M.T., Ph.D.

Diterangkan oleh dosen yang akrab disapa Hasti ini bahwa Adaptation Fund merupakan kompetisi pendanaan terkait ruang publik yang telah ada sejak 2012. “Pesertanya berasal dari seluruh dunia. Fokus lokasinya pada urban area,” terangnya. Hasti melanjutkan bahwa ratusan peserta kemudian di saring ke dalam 63 besar untuk pemaparan projek. “Untag Surabaya ini satu-satunya yang lolos mewakili Indonesia. Kami memaparkan penelitian terkait public space, saat itu proposal di awal 2019. Menurut Kemitraan (mitra lokal), ini proposal tercepat yang didanai hanya dalam dua tahun pengajuan,” ungkapnya.

Hasti menjelaskan bahwa timnya mengusung proposal terkait perubahan iklim. “Jadi judul proposal kami itu ‘Embracing the Sun’ yang berkaitan dengan perubahan iklim. Nah judul ini yang salah satunya menarik perhatian dan menjadikan kami lolos, ibaratnya bagaimana cara menggapai matahari,” jelasnya. Kota Samarinda, jelas Hasti, dipilih sebagai lokasi dalam proposal. “Dampak perubahan iklim tertinggi ada di Kota Samarinda yang merupakan kota sungai, sehingga mengalami banjir terburuk di dunia,” terangnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut Hasti dan tim mengusulkan program pembangunan Kota Samarinda. “Slogan mereka adalah menjadikan Samarinda sebagai kota tepian. Resiliensi masyarakat perlu disoroti. Dengan hambatan (banjir), mereka tetap tangguh menghadapi dan (pemerintah) membuat program riverside,” jelasnya. Hasti bersyukur mendapat dukungan pemerintah setempat. “Pemerintah Kota Samarinda butuh inovasi dan kami punya program. Jadi kami menandatangani MoU dengan walikota sebelumnya dan didukung juga oleh walikota yang baru,” imbuhnya.

Dosen yang menjabat Direktur Eksekutif Pusat Studi Ketahanan Iklim dan Kota Untag Surabaya ini menyebutkan bahwa Pasar Segiri menjadi lokasi sentral dalam program. “Lokasinya masih raw dan merupakan pasar induk di Kota Samarinda,” terangnya. Menurut Hasti, pemilihan lokasi ini yang menambah poin pada proposal hingga lolos pendanaan. “Pasar Segiri punya efek gazzy yang besar, sehingga pembangunan ruang publik di sana bisa menambah inklusivitas. Itu yang menjadi nilai tambah proposal kami,” katanya.

Dalam proposal tersebut, imbuh Hasti, timnya mengajukan tiga usulan program. “Pembangunan public space ini merupakan hasil penelitian yang akan dilakukan. Pada prosesnya mendesain bersama masyarakat. Kami berkolaborasi dengan Queensland University of Technology,” tambahnya. Menurutnya, kesadaran masyarakat juga penting. “Setelah memberi awareness, baru dibangun. Dalam proses membangun ruang publik ini kami memberikan pemahaman pada masyarakat,” paparnya.

Lebih lanjut Hasti menyebutkan bahwa timnya dapat mengimplementasikan program dalam kurun waktu dua tahun. “Oktober tahun lalu dinyatakan lolos sehingga kami mulai dengan persiapan lahan dan stakeholder mapping. Desember tahun ini ada kick off dengan Pemerintah Kota Samarinda dan selama tiga bulan awal akan research,” sebutnya. Hasti mengatakan bahwa implementasi akan berakhir pada 2023. “Harapannya selesai tepat waktu, sehingga bisa menciptakan public space yang bisa beradaptasi pada perubahan iklim, ini satu-satunya dunia,” tutupnya (um/rz).



PDF WORD PPT TXT