Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Stigma dan Prasangka Terkait COVID-19 dari Sudut Pandang Psikolog

Stigma sosial menjadi satu fenomena sosial yang saat ini muncul di tengah wabah COVID-19 dan cukup memperparah situasi pandemi ini. Beberapa kejadian penolakan jenazah perawat yang meninggal akibat COVID-19 di daerah Semarang, Jawa Tengah dan wilayah lainnya. Meski kerap disebut sebagai garda terdepan, para dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang menangani pasien COVID-19 justru mendapat stigma sosial dan diskriminasi. Telah banyak kasus dimana tenaga kesehatan tidak diperbolehkan masuk di perumahan atau kampung tempat tinggalnya karena dikhawatirkan mampu menularkan virus COVID-19.

Dalam hal ini, pakar Psikologi Sosial, Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, kemunculan stigma sosial dikarenakan seseorang atau kelompok masyarakat memiliki pengetahuan yang kurang memadai terkait virus Corona. “Info penularan, cara penularan, hal-hal seperti itu kurang mendapat informasi dan inilah yang menyebabkan munculnya stigma,” paparnya melalui sambungan telepon, Rabu (29/4). Lebih lanjut Andik menjelaskan, stigma merupakan bagian dari prasangka dan orang yang berprasangka akan merujuk pada perlakuan diskriminasi pada orang lain.

Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya itu juga menyebutkan bahwa sikap dan perilaku masyarakat saat ini tergantung pada informasi yang didapat. Olehnya, sangat penting memilih dan memilah informasi yang diterima. Penerimaan informasi ini juga erat kaitannya dengan imunitas. Andik menjelaskan apabila seseorang mendapat informasi negatif, hal tersebut semakin meningkatkan kecemasan dan kekhawatirannya sehingga memudahkan seseorang memiliki stigma pada orang lain yang terkait dengan COVID-19. “Kalau terlalu takut dan cemas, serta berpikir negatif terus menerus malah menurunkan imunitas. Padahal untuk COVID-19 ini yang dibutuhkan adalah imunitas,” tutur Andik.

Melihat dari sisi lain Dr. Dyan Evita Santi, M.Si., Psikolog melihat adanya stigma sosial ini menyebabkan masyarakat yang mengalami gejala atau bahkan dinyatakan positif COVID-19, memilih untuk menyembunyikan hal tersebut. Hal ini dikarenakan melihat adanya diskriminasi yang diterima. Padahal hal ini justru berbahaya karena mampu mempercepat penularan. “Kita berupaya bahwa apabila ada stigma yang seperti ini adalah salah dan kita cegah mulai dari diri sendiri dan menularkan pada lingkungan sekitar kita,” terang Dyan saat diwawancara pada waktu yang berbeda, Kamis (30/4). Dalam menghilangkan stigma sosial pada COVID-19 ini dimulai dari pencarian informasi yang aktual dan kredibel. Selain itu, empati yang tinggi juga dibutuhkan dalam masa pandemi ini. “Rasa empati ini saya rasa harus kita miliki dalam situasi apapun. Tidak harus saat pandemi seperti ini, setiap hari empati merupakan softskill yang harus kita miliki. Apalagi saat seperti ini,” jelasnya.

Selain itu, media massa memiliki peran penting dalam mengurangi stigma sosial yang ada. Menurut Dyan, apabila media mampu memberikan pemberitaan yang baik akan merubah cara pandang masyarakat jauh lebih baik terhadap hal-hal terkait virus corona. “Media harus betul-betul memiliki etika yang baik, mengedukasi yang baik. Seperti penggunaan bahasa yang digunakan hingga membentuk opini masyarakat agar memandang penyakit ini dengan lebih positif,” terang Dyan. Diskusi mengenai Stigma Sosial ini lebih lanjut terbahas pada Webinar bertema “Stigma dan Prasangka Terkait COVID-19” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Untag Surabaya, Minggu dan Senin (3-4/5) mendatang.(ua/ze)

Login dengan Username dan password Siakad Anda