Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Sarasehan Kebangsaan: Menguji Jiwa Patriotik dan Bentengi Nasionalisme di Masa Pandemi

“Membicarakan masalah nasionalisme dan patriotisme kaitannya dengan pandemi dalam suasana bulan Bung Karno, kita membayangkan bagaimana jiwa seorang patriot yang dalam sanubarinya mengalir semangat untuk siap berjuang untuk tanah air,” papar J. Subekti, SH., MM., pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1954 (YPTA) Surabaya. Tampil sebagai keynote speaker dalam Webinar Sarasehan Kebangsaan Nasional Untag Surabaya, Selasa (30/6), Subekti mengataka  dalam masa pandemi seperti ini ajaran Soekarno masih sangat relevan. Sebab, semangat juang nasionalisme yang ada pada Bung Karno harus ditunjukkan untuk melawan pandemi COVID-19. “Mari mengambil sesuatu yang bisa kita lakukan sesuai dengan patriotisme dan nasionalisme kita,” ungkapnya. Subekti mencontohkan, disiplin mematuhi Protokol Kesehatan merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan sebagai wujud cinta tanah air.

Sementara itu, Puti Guntur Soekarno menyebutkan gotong royong menjadi potret nasionalisme yang dimiliki oleh warga Indonesia dalam menghadapi pandemi. Puti mencontohkan gotong royong yang ada terlihat dari masyarakat yang memberikan bantuan APD hingga masker. Dari pihak DPRI RI, Puti menyebutkan gotong royong dilakukan dengan merelevansi anggaran untuk membantu UKM dan industri kecil yang terdampak COVID-19. “Gotong royong memang sudah ada di bumi Indonesia,” katanya. Namun, bila dikaitkan dengan bulan Bung Karno, Puti menyayangkan banyaknya generasi muda saat ini yang gagap sejarah. Menurutnya, memori kolektif kesejarahan tentang Bung Karno masih belum secara komprehensif ditempatkan sebagaimana mestinya. “Ini merupakan PR kita bersama. Tugas kita adalah mencerdaskan generasi muda dengan menelaah kembali sejarah untuk membangkitkan nasionalisme kita pada Indonesia,” pungkas anggota DPR RI itu.

Menjadi narasumber dengan sudut pandang mahasiswa, Agus Supriyanto-Presiden BEM Untag Surabaya 2019 juga turut menyayangkan rasa nasionalisme yang dimiliki oleh generasi milenial mulai luntur seiring dengan berkembangnya teknologi. Menurutnya, pemuda saat ini lebih sibuk dengan gadget masing-masing dan mengabaikan interaksi sosial dengan masyarakat. “Berkembangnya teknologi memang memiliki dampak positif dan negatif, sayangnya saat ini justru lebih merasakan dampak negatif, utamanya terkait penerapan toleransi dan nasionalisme,” jelasnya. Agus melanjutkan, sebagai upaya merawat nasionalisme dalam masa pandemi, pemuda saat ini diharapkan mampu terjun langsung membantu pemerintah, misalnya dengan menjadi relawan non-medis.

Adanya pandemi barang tentu menyebabkan terjadinya banyak perubahan, bukan hanya di Indonesia, melainkan hampir seluruh dunia. Drs. Djarot Saiful Hidayat, MS., mengatakan perubahan yang terjadi menguji rasa nasionalisme kita dalam menghadapi pandemi. Begitu juga dengan negara lain. “Inilah ujian kita dimasa yang disebut Bung Karno sebagai proses berkesinambungan yang tiada akhir, yakni proses nation and character building,” urai Djarot. Ia menyebutkan ada 3 hal yang bisa dilakukan untuk melawan COVID-19, yakni bersikap disiplin, adanya peran perguruan tinggi melalui penelitian dan semangat gotong royong. Djarot menambahkan, “semangat gotong royong yang ada saat ini juga harus ditindaklanjuti dengan upaya disiplin untuk memutus rantai COVID-19.” Direktur pengkajian BPIP, Dr. Muhammad Sabri, MA., menutup webinar dengan analisis filosofis dan ilmiah terhadap pidato bung Karno pada 1 Juni 1945 secara mendalam. (ua)

Login dengan Username dan password Siakad Anda