Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Sadou: Produk Media dan Diplomasi Budaya Jepang

Sadou merupakan seni minum teh yang berasal dari Jepang dan cukup populer di berbagai negara. Sadou juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya Jepang. Kamis (9/7), melalui webinar menggunakan platform telekomunikasi, Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya membahas secara detail sejarah hingga tata cara upacara Sadou. Webinar kali ini mendatangkan narasumber Master Sadou-Shimizu Mikiko, Dosen Universitas Negeri Surabaya-Prof. Djodjok Soepardjo, dan dosen Untag Surabaya-Zida Wahyuddin, M.Si.

Menjadi narasumber pertama, Zida Wahyuddin, M.Si., menjelaskan budaya minum teh di Jepang berasal dari Tiongkok dan diperkenalkan oleh tokoh bernama Sen Rikyu pada abad ke-16. Mengutip Sadler, Sadou merupakan gabungan antara seni minum teh dan zen Budha. Upacara minum teh menggunakan matcha (teh hijau) ini diperkuat dengan nilai-nilai keteguhan diri, kesederhanaan dan kesetiaan yang diciptakan oleh kelas militer hingga dikenal sebagai Bushido. “Hingga kini, Sadou masih dilestarikan oleh negarawan, militer, seniman hingga masyarakat biasa,” terang Zida.

Sadou menjadi salah satu agenda budaya rutin yang diperkenalkan oleh Japan Foundation, lembaga yang didirikan oleh Kemlu Jepang untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Jepang pada warga asing. Mengacu pada pidato perdana Menteri Katayam Tetsu, tujuan pemerintah adalah pembangunan negara yang berbudaya untuk mengembalikan kebanggaan nasional dan pengakuan internasional. Selain itu juga mengubah image Jepang pada masa perang sehingga persepsi budaya adalah damai. Zida menjelaskan, “daya tarik budaya Sadou ini merupakan kekuatan tersembunyi, bersifat menghipnotis yang mengandung pesan memperkenalkan pesona Jepang yang modern namun tetap melestarikan tradisinya.”

Sementara itu, Prof. Djodjok Soepardjo menjelaskan kekuatan modernisasi Jepang terletak pada masyarakat, budaya dan bahasanya. Dilanjutkan olehnya, banyak yang memiliki kesalahpahaman bahwa kemajuan Jepang dicapai setelah Restorasi Meiji, padahal ini merupakan penafsiran yang keliru. “Sebelum adanya Restorasi Meiji, Jepang merupakan negara tertinggal, baru setelah masuk pintu gerbang sejarah, Jepang dengan cermat menyerap kebudayaan dan teknologi dari Eropa serta mampu merealisasikan modernisasi di bidang industri,” paparnya.

Pada awal abad ke-18, sistem pendidikan Jepang memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat dengan tingkat melek huruf lebih dari 50 persen dari populasi penduduk Jepang pada saat itu. “Artinya bahwa Jepang sudah punya dasa untuk menjadi negara yang modern,” tambah Prof. Djodjok. Menurutnya, dalam usaha mencermati modernisasi Jepang, cukup dengan memahami masyarakat dan bahasa. Keduanya merupakan unsur yang mendasari perubahan. Misalnya, peran bahasa dan budaya Jepang. “Mudah-mudahan pengalaman negara Jepang ini dapat dijadikan cerminan bagi masyarakat kita untuk melangkah menjadi masyarakat madani yang modern,” tutupnya.

Menjadi narasumber terakhir, Shimizu Mikiko lebih dulu menjelaskan perbedaan Sadou dan Cha no Yu. Dijelaskan olehnya, Cha no Yu berarti menikmati hidangan teh, sedangkan Sadou dengan kata “dou” memiliki adanya filosofi atau ajaran tertentu. Shimizu kemudian mempraktikkan secara detail ritual upacara minum teh tersebut, mulai dari peralatan hingga membuat teh dengan hikmat dan sarat makna. Ia juga menunjukkan berbagai jenis makanan kecil yang disajikan saat Sadou. “Bentuk kue tradisional biasanya menyesuaikan musim. Setiap musim akan berbeda,” terangnya. (ua)

Login dengan Username dan password Siakad Anda