logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Psikologi Berbagi, Wujud Kepedulian Untag Surabaya pada Terdampak Semeru

Erupsi Semeru yang mengakibatkan sejumlah kerugian hingga korban jiwa menggugah keprihatinan sivitas akademika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Berbekal hal tersebut, Fakultas Psikologi Untag Surabaya mengirimkan 5 Dosen dan 21 Mahasiswa program studi Magister Psikologi Profesi untuk melakukan kegiatan ‘Psikologi Berbagi’ pada masyarakat terdampak Erupsi Semeru. Kegiatan digelar selama dua hari yakni, Senin-Selasa, (20-21/12) di Kecamatan Candipuro, Kecamatan Lumajang.

Saat ditemui di sela kegiatan, Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi, M.Si., Psikolog mengatakan bahwa timnya didukung penuh oleh Pusat Studi Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya. Para dosen yang bertugas memberikan PFA (Psychological First Aid) kepada seluruh tenaga kesehatan yang akan bertugas di Semeru. “Sedangkan mahasiswa Mapro (Magister Psikologi Profesi) melakukan trauma healing pada seluruh kalangan/tingkatan usia mulai anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia,” terang Amanda.

Dr. IGAA Noviekayati, M.Si., Psikolog yang tergabung dalam tim dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya menyebutkan bahwa masyarakat setempat yang sudah berada di pengungsian selama 20 hari, saat ditemui mulai memperlihatkan kekhawatiran mereka. Meski demikian, lanjut Novi, ada perbedaan antara masyarakat di dua pengungsian berbeda. “Mereka yang berada di SMP 1 Candipuro cenderung bisa menikmati. Sedangkan pengungsi di SMA 1 Candipuro yang rumahnya rata dengan tanah, terlihat secara serius ada hal yang mengganggu pikiran mereka karena belum tahu bantuan jangka panjang pemerintah.”

Menurutnya, hal tersebut justru berdampak pada anak-anak, jika dibiarkan maka akan menjadi anak yang tidak menghargai dirinya dan bantuan orang lain. Menjadi egois dan empati mereka tidak tinggi. Tanpa penanganan psikologis maka anak di sana tidak menghargai banyak hal termasuk jerih payah mereka sendiri karena terbiasa dibantu, sehingga tidak memunculkan kreativitas. “Kami mengajak mereka memahami arti bantuan karena mereka belum mampu menghargai bantuan, misalnya berupa mainan. Ketika sudah tidak mau (red: dengan mainan lama) ya sudah dibuang saja,” papar Novi Dosen Psikologi Untag Surabaya.

Adapun Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Untag Surabaya - Gharudhea Inggil Panggalih berperan memberikan trauma healing pada anak berkebutuhan khusus (ABK). “Mereka tidak bisa berkomunikasi dengan orang sekitar sehingga proses adaptasi mereka lebih berat. Kondisi bencana merupakan kondisi baru jadi double adaptasi dan tekanan yang dihadapi. ABK harus didampingi secara khusus,” ujar Gharudhea. Penanganan ABK, imbuh Gharudhea, hampir sama anak pada umumnya, untuk ABK ada pendampingan dan dilakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan sebenarnya apa yang mereka butuhkan untuk survive.

Pada kesempatan yang sama, diserahkan bantuan kepada masyarakat terdampak Erupsi Semeru melalui Puskesmas Candirejo. Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi, M.Si., Psikolog berharap, masyarakat dan sivitas akademika dapat terus berbagi. “Bukan hanya donasi berupa barang fisik tapi juga berbagi hal-hal yang bersifat memberikan dorongan psikis, menyehatkan seluruh masyarakat. Dengan berbagi kita akan sehat, maju dan berkembang bersama,” tutup Amanda. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT