Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

PRODI TEKNIK ARSITEKTUR DALAM INTERNATIONAL WORKSHOP ON URBAN STUDIES

Program studi Teknik Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya terlibat dalam International Workshop on Urban Studies di Kampung Ketandan, Surabaya. Bertema ‘Alter-Shelter 5: Migrant Matter’, kegiatan ini merupakan praktek di kampung yang terletak di lingkungan perkotaan dan diadakan oleh Operations for Habitat Studies. Dosen Teknik Arsitektur - Dr. RA. Retno Hastijanti, ST., MT. yang tampil sebagai reviewer karya dan keynote speaker menerangkan, “Lokakarya selama satu minggu ini diadakan bagi individu kreatif untuk menemukan kembali dan menerjemahkan gagasan migrasi melalui beragam perspektif dan mengembangkan ide-ide baru menjadi karya visual yang berfungsi sebagai media alternatif untuk publik.”

Kampung Ketandan Surabaya menjadi pilihan karena terdapat Joglo yang berupa ruang terbuka dan bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik  untuk berinteraksi dengan warga Ketandan. Hasti menambahkan, “Peserta yang terdiri dari 9 mahasiswa asal Jepang dan 5 mahasiswa Indonesia memanfaatkan Joglo Ketandan untuk berdiskusi serius terkait kreasi yang akan dibuat dari bahan yang sudah terkumpul”.  Dirinya mengaku bangga, mengingat Joglo Ketandan merupakan hasil revitalisasi mahasiswa prodi Teknik Arsitektur UNTAG Surabaya pada 2016 saat Kota Surabaya menjadi tuan rumah dalam acara internasional, PrepCom 3 of UN Habitat III.

Hasti menuturkkan, hingga saat ini kerjasama antara UNTAG Surabaya dan Kampung Ketandan terus terjalin. Dalam Alter-Shelter 5: Migrant Matter pada 18-24 Agustus 2019 ini dihadirkan deretan narasumber, salah satunya adalah Hasti sebagai cagar budaya Kota Surabaya yang didampingi oleh Kurator Seni Surabaya - Ayos Purwoaji, Seniman New Media - Benny Wicaksono, Sosiolog - Yogi Ishabib serta Arsitek dan Peneliti Operations for Habitat Studies - Sarah Inassari. Pun turut dihadirkan narasumber dari Jepang, yakni: Prof. Kenta Kishi dari Akita University of Art dan Mana Watanabe - mahasiswi Arsitektur Waseda University.

Lebih lanjut Hasti menjelaskan, setelah peserta berdiskusi di Joglo, mereka harus membuat karya berupa produk secara kolektif, setidaknya 10 proyek. Adapun ketentuannya adalah proyek harus terlihat, dapat dibaca, atau dapat didengar. “Karya yang dihasilkan setidaknya 10 proyek yang ditampilkan di dekat lokasi dan dapat diakses oleh publik disertai artikel atau esai. Setiap proyek harus memiliki relevansi kuat dengan tema lokakarya dan kondisi lokal. Karena saat sebelum produksi mereka melakukan pengumpulan informasi lokal melalui wawancara, dokumentasi dan interaksi,” tutup Hasti. (Um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda