Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Prodi Sastra Jepang Selenggarakan Kuliah Umum Bahas Daya Tarik Jepang

Bertempat di Meeting Room Graha Wiyata lantai 1, Program Studi (Prodi) Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya mengadakan Kuliah Tamu, Selasa (29/10). Mengangkat tema “Jepang dalam Pandangan Negara-Negara Asia”, prodi Sastra Jepang mengundang Prof. Dr. Djodjok Soepardjo, M.Litt sebagai pemateri.

“Tema yang diangkat cukup menarik,” ujar Wakil Rektor 3 Untag Surabaya, Dr. Muaffaq A. Jani., M.Eng dalam sambutannya. Hal tersebut, lanjut Dr. Muaffaq, mengingat Jepang merupakan salah satu negara Asia yang saat ini berada di puncak klaster sebagai salah satu negara dengan pendapatan tertinggi. Terlebih lagi, masyarakat Jepang sendiri memiliki karakter yang berbeda dan unik. Misalnya, pekerja keras. “Dari banyak budaya hingga kebiasaan sosial masyarakat Jepang, mari kita contoh yang baik-baik. Kita pelajari dan tiru agar kemudian mampu jadi negara yang adil dan makmur,” ujar Muaffaq. Sebelum memasuki pemaparan materi, Prof. Djodjok terlebih dahulu mengucapkan selamat atas perolehan akreditasi A yang diraih Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya. “Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Saya ucapkan selamat untuk prodi Sastra Jepang yang sudah meraih akreditasi A,” ungkapnya.

Berbicara mengenai daya tarik Jepang, ada banyak hal yang disampaikan oleh Prof. Djodjok. “Selama 30 tahun saya bergelut dengan Jepang, ada banyak sekali daya tarik yang dimiliki oleh Jepang dari pandangan budaya hingga ilmu bahasa,” kata Prof. Djodjok membuka materi. Dijelaskannya, kekuatan ekonomi pernah menjadi daya tarik utama Negeri Bunga Sakura itu. “Saya pribadi menganggap, dulu ini merupakan daya tarik bangsa asing untuk datang dan belajar bahasa Jepang, Kalau kalian mending belajar ekonomi Indonesia saja karena anak muda sana sendiri tidak mau belajar ekonomi disana. Mereka menjauhi yang kotor, ribet dan berbahaya,” urainya.

Pemerintah Jepang sendiri saat ini, lanjut Prof. Djodjok, juga memberikan perhatian lebih pada sektor wisata. Hal tersebut memang diharapkan mampu menjadi kelanjutan ekonomi. Dicontohkannya seperti Kyoto dengan wisata religi seperti kuil juga Hokkaido dengan wisata alamnya. “Disamping budaya Jepang yang memang memesona, wisata yang ada juga merupakan bentuk berbagai upaya untuk meningkatkan dan mengenalkan budaya daerah setempat,” terang Kaprodi Sastra Jepang Unesa periode 2012 itu.

Prof. Djodjok menyebutkan, berbagai inisiatif serupa juga pernah dilakukan untuk mengenalkan wisata di Indonesia. “Jadi meniru pola pengembangan wisata di Jepang dengan menonjolkan budaya daerah, seperti di daerah Bandung itu dan itu bagus bisa mendongkrak sektor wisata. Meniru yang baik di Jepang dan diterapkan disini,” katanya. (ua)

Login dengan Username dan password Siakad Anda