Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Prodi Sastra Inggris Kaji Eksplorasi Lingkungan dalam Sastra

New Normal menjadi momok yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat Indonesia. Pandemi COVID-19 membawa banyak perubahan pada lingkungan dan berdampak hampir di semua bidang kehidupan, termasuk sastra yang dianggap sebagai sebuah respons kreatif estetik selalu berkaitan erat dengan lingkungan. Berangkat dari latar belakang tersebut Selasa, (30/6) Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar webinar bertema ‘Lingkungan, Prosa, dan Puisi’.

Ketua Prodi Sastra Inggris FIB Untag Surabaya-Mateus Rudi Supsiadji, S.S., M.Pd. mengatakan bahwa webinar tersebut bertujuan untuk menawarkan gagasan kreatif dalam menghadapi era New Normal di tengah Pandemi COVID-19, “Persoalan lingkungan merupakan wacana yang tidak akan pernah selesai dibahas. Persoalan tentang eksplorasi lingkungan, perubahan kondisi lingkungan, serta perumusan kebijakan lingkungan menjadi pokok pembicaraan yang konsisten dibicarakan”

Sastrawan dan peneliti University of New England-Dr. John Charles Ryan yang tampil sebagai pemateri menerangkan bahwa karya sastra seringkali merupakan refleksi penulis terhadap kondisi lingkungan yang dihadapinya, misalnya kebakaran hutan di Australia dan hilangnya fungsi lingkungan bagi hewan-hewan, menjadi inspirasi bagi penulis. “Memahami tradisi penggunaan tanaman dalam karya sastra memerlukan kajian teori yang luas, gaya yang bervariasi, dan latihan yang cukup sehingga menemukan kemungkinan penggunaan bahasa baru. Banyak puisi, khususnya sepuluh tahun terakhir, memandang tanaman secara lebih luas dari sekadar objek yang indah atau benda yang dieksploitasi,” kata dosen tamu di Prodi Sastra Inggris FIB Untag Surabaya ini.

Hal senada disampaikan Penyair F. Aziz Manna. Menurutnya dalam sastra, lingkungan dan perubahannya menjadi salah satu tema yang kerap digarap oleh penulis. Dalam menghadapi perubahan lingkungan, kata  pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tersebut, diperlukan pengendapan agar terhindar dari karya sastra yang instan. “Perubahan kondisi dunia karena COVID-19 direspons oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra, mulai dari penerbitan antologi, baik bersama maupun individu, sayembara, maupun diskusi.”

Novelis Ramayda Akmal yang juga tampil sebagai pemateri menyebutkan bahwa kondisi sedih dan kesulitan seperti saat ini justru menjadi sumber kreativitas. “Menulis adalah kerja soliter, artinya kondisi ini justru menjadi situasi yang tepat. Namun, tentu saja latihan itu penting,” jelasnya. Kandidat Doktor dari Hamburg University tersebut menambahkan, “Karya sastra juga bisa tampil sebagai ramalan-ramalan tentang masa depan. Misalkan tentang wabah corona ini, Albert Camus pernah menciptakan karya sastra berjudul ‘Sampar’, yaitu wabah yang menyerang umat manusia.” (um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda