logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Prodi Sasing Laksanakan program Matching Fund 2021 di Desa Plunturan, Ponorogo

Sebagai strategi penguatan kolaborasi dan sinergi strategis antara Perguruan Tinggi dengan pihak Industri, Kemendikbud melalui Ditjen Dikti meluncurkan program Matching Fund. Program yang dikelola oleh Kedaireka ini merupakan salah satu implementasi dari 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi. Dari ribuan proposal yang diajukan oleh Perguruan Tinggi baik PTN dan PTS, dua proposal Matching Fund Untag Surabaya lolos pendanaan. Salah satunya merupakan proposal Matching Fund 2021 yang diajukan oleh Program Studi (Prodi) Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya. Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Ponorogo menjadi tempat pelaksanaan program Matching Fund.

“Desa Plunturan ini memiliki potensi budaya, namun tidak dapat mengoptimalkan potensi budaya untuk kesejahteraan masyarakat mengenai permasalahan desa,” tutur ketua pelaksana program Matching Fund 2021 prodi Sasing Untag Surabaya - Drs. YB Agung Prasaja, M.Hum. saat diwawancara, Jumat (15/10). Sejak 2019, Untag Surabaya telah menjalin kerjasama dengan Desa Plunturan untuk membentuk desa wisata. Namun, adanya pandemi membuat kegiatan pendampingan kurang maksimal. Dengan adanya Matching Fund 2021 ini, prodi Sasing mengusung tema “Pelatihan dan Pendampingan Masyarakat Dalam Upaya Membentuk Desa Wisata Budaya di Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Ponorogo”.

Sebanyak 17 topik kegiatan terlaksana sejak September lalu, mulai dari pelatihan untuk kelompok sadar wisata, implementasi Sapta Pesona Wisata, pelatihan penyusunan proposal anggaran kegiatan, pelatihan story telling hingga pelatihan hospitality dengan mengembangkan rumah-rumah penduduk sebagai homestay. 19 dosen dan 45 mahasiswa prodi Sasing terlibat aktif dalam pelaksanaan berbagai program tersebut.

Program unggulan lainnya yakni digitalisasi budaya. Prodi Sasing menyumbangkan berbagai sarana digitalisasi yang memadai untuk warga desa seperti pembuatan website, penyediaan komputer, kamera dan membantu masuknya jaringan internet ke desa. “Kegiatan ini ditujukan untuk menguatkan dan mempromosikan lebih cepat,” kata Agung. Dengan berbagai program yang ada, lanjut Agung, mendapat respon yang cukup baik dari warga desa. “Sambutan dari masyarakat cukup antusias. Bahkan ada kegiatan rembug budaya dengan pelaku budaya wisata disana tiap Sabtu malam,” ungkapnya.

“Program unggulan yang kami miliki merupakan pelatihan bahasa Inggris bagi warga desa dengan konsep learning by doing dimana proses pembelajaran dilakukan di outdoor,” papar Agung. Hal ini, menurutnya, memberikan proses pembelajaran yang cukup efektif untuk warga desa. “Sejak pembelajaran pertama, kami melihat semakin meningkat antusiasme warga dengan makin banyak partisipan. Ini menjadi inovasi metode pembelajaran yang efektif,” imbuhnya. Lebih lanjut Agung berharap tujuan program Matching Fund 2021 bisa tercapai dengan baik dan mampu meneruskan program hingga desa Plunturan benar-benar siap menjadi desa wisata. (ua/rz)



PDF WORD PPT TXT