logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Prodi Magister Psikologi Profesi Untag Surabaya Gelar Workshop, Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Meneliti Dengan Metode Kualitatif

Munculnya pendekatan post positivisme yang menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif cenderung subjektif berhasil membuat penelitian bidang psikologi cenderung lebih mengarah pada metode penelitian kuantitatif. Namun para ilmuwan menyadari pendekatan kualitatif menjadi sangat penting untuk menjelaskan secara detail mengenai mengapa dan bagaimana fenomena psikologi dapat terjadi. Demikianlah topik pembahasan dalam workshop bertajuk Metode Penelitian Kualitatif dan Penulisan Karya Ilmiah yang diselenggarakan Program Studi (prodi) Magister Psikologi Profesi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Digelar secara hybrid di Smart Class Room Gedung Graha Prof. Roeslan Abdulgani, workshop ini menghadirkan narasumber Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, MBSc., PhD., Psikolog Guru besar Universitas Gadjah Mada dan diikuti oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Untag Surabaya.

Prof. Koent, panggilan akrabnya, membuka workshop dengan pemaparan materi, dengan menjelaskan lima metode kualitatif menurut Cresswell; Naratif (menitik beratkan pada pengalaman individu), Fenomenologi (mencari makna dari suatu fenomena yang dialami individu), Grounded Theory (melakukan analisis abstrak terhadap suatu fenomena yang dapat menciptakan teori tertentu), Etnografi (meneliti suatu kelompok kebudayaan tertentu dengan pengamatan di lapangan), dan Studi Kasus (mengeksplorasi kehidupan nyata dengan pengumpulan data yang mendalam). Prof Koent memberikan masukkan kepada mahasiswa, ketika akan melakukan penelitian sangat penting dalam menentukan tema terlebih dahulu. “Kalian harus punya tema mengenai apa yang akan diteliti. Bagaimana caranya? Harus turun ke lapangan, melakukan assesement, dan critical thinking,” jelasnya.

Menurutnya, dalam penelitian kualitatif, subjek dan objek tidak dapat diganggu gugat, sehingga muncul istilah first hand informant dan second hand informant. “Ketika peneliti turun ke lapangan maka data yang didapatkan murni dari first hand informant, tetapi kalau hanya melihat dari buku itu second hand informant.” Sementara itu, Prof Koent juga menemukan adanya penelitian terdahulu yang juga mengandung hoax. “Mereka hanya berdasarkan pemikiran kemudian dituangkan dalam penelitiannya itu hoax dan bisa untuk brain washing.” paparnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Prof Koent menekankan ketika meneliti mahasiswa perlu check menggunakan metode triangulasi sumber data; dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi. Karna, penelitian yang hanya melihat dari buku hanya sekedar second hand informant yang pastinya akan berbeda kualitasnya dengan melakukan trigulasi sumber data.

Prof Koent juga memaparkan perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. “Penelitian kuantitatif hanya single methode. Pengumpulan datanya juga menggunakan angket, dataset statistik, wawancara, observasi, namun angka tidak bisa dijadikan satu dengan narasi. Sedangkan penelitian kualitatif mixed method, pengumpulan data dengan melakukan wawancara, observasi, teknik dokumen, dan teknik triangulasi,” jelas penulis buku ‘Peran Ayah Menuju Coparenting’ ini.

Prof Koent mengajak mahasiswa sebagai peneliti untuk menanamkan empat jenis keberanian dalam dirinya. “Empat jenis keberanian itu yakni berani menghadapi objek, berani menghadapi resiko, berani menceritakan apa yang diteliti, dan berani menegakkan kode etik,” ujar Prof Koent.  Saat ditemui di akhir kegiatan, Prof Koent mengaku sering mengajak mahasiswa untuk turun lapangan dalam jangka waktu 1-3 hari. “Yang selalu saya tekankan pada mahasiswa adalah yang namanya belajar itu dipikir, dirasakan, dilakukan,” terangnya saat diwawancarai. (oy/rz/kr)



PDF WORD PPT TXT