Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Prodi Ilmu Komunikasi Hadirkan Pakar Data dalam Seminar Online

Terhitung sejak 16 Maret 2020, Universitas 17 Agustus Agustus 1945 Surabaya melaksanakan perkuliahan jarak jauh guna meminimalisir penyebaran wabah COVID-19. Media daring yang digunakan sebagai media pembelajaran tidak menghalangi kegiatan belajar mengajar untuk tetap dilaksanakan dalam beragam cara. Hal ini dimanfaatkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP melalui mata kuliah Cyber Communication dengan menggelar seminar online bertema ‘Data dan Privasi di Masa Pandemi’, Senin, (31/3).

Amalia Nurul Muthmainnah, S.I.Kom., M.A. sebagai dosen pengampu mengatakan, seminar online ini penting mengingat mahasiswa akan menempuh mata kuliah baru, yakni Data Science for Communication. Big Data sering menjadi buzzword, yakni kata-kata yang sering diucapkan tapi tidak semua orang paham maknanya.Ilmu tentang Teknologi Informasi dan Ilmu Komunikasi saling berkaitan. Teknologi tidak hanya berbicara tentang alat tetapi juga efek ekonomi sosial budaya seperti apa,” kata dosen yang akrab disapa Bu Amal tersebut.

Tampil sebagai narasumber, Ferdiansyah Dolot, M.Sc. Di awal pemaparannya dia menerangkan bahwa kebutuhan akan data di era sekarang dan di era sebelum adanya internet jelas berbeda, “Dulu service hanya menggunakan desktop melalui aplikasi lokal yang dibuat database. Lalu internet mulai booming dan service internet mulai murah bahkan free. In the term of data banyak sekali yang dikumpulkan.”

Perkembangan inilah, lanjut Ferdiansyah, yang menjadikan data pengguna diperluas, misalnya informasi tentang data pembelian dan user behaviour disimpan dalam database sehingga menambah volume data yang disimpan. “Kapabilitas untuk memproses data ini menjadi sangat terbatas. Big data itu definisinya adalah ketika kita punya banyak data tapi gak tau mau diapain,” katanya. Menurut pria yang bekerja sebagai Engineer di Facebook London ini, adanya big data memerlukan aplikasi dengan data processing yang besar.

Ferdiansyah menyoroti pentingnya perlindungan privasi dalam data. Pasalnya data pribadi dalam aplikasi yang saling terkoneksi, bisa saja disalahgunakan dan merugikan penggunanya. Dia mengatakan, “Kalau di Eropa yang sudah punya data literacy yang baik sehingga pengguna bisa memilah data mana yang privasi atau bukan. Ada concern form yang harus diisi.” Hal  tersebut dipertegas dengan General Data Privacy Regulations yang berlaku di Eropa. “Jangan sampai dengan cuma-cuma memberikan data pada orang lain. Kita harus concern seperti orang Eropa,” tukas Ferdiansyah. (um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda