Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Prodi Akuntansi FEB Untag Surabaya Bahas Dunia Akuntansi di Era New Normal

  1. Kamis (25/6), Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untag Surabaya mengadakan webinar yang diikuti lebih dari 400 peserta. Antusias peserta ini melihat topik webinar yang cukup menarik, “Dunia Akuntansi Menyongsong Kampus Merdeka dan Era Baru Pasca COVID-19 – New Normal”. Menjadi narasumber pertama, Dr. H. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA.,- Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya menjelaskan, seseorang bisa sukses manakala mampu beradaptasi dengan perubahan. “Tidak ada yang berharap adanya kondisi seperti ini, namun untuk menjadi orang sukses kita butuh untuk selalu bisa beradaptasi,” katanya. Dengan adanya pandemi saat ini, arahan dari Kemendikbud terkait Kampus Merdeka cukup mendorong Perguruan Tinggi untuk segera menyesuaikan kurikulum. Slamet menjelaskan, “karena masa penyesuaian, target akhir bulan Juni setiap program studi di Untag Surabaya sudah mempersiapkan kurikulum dengan menerjemahkan kebijakan Kampus Merdeka.”

Adanya pandemi cukup berpengaruh pada sistem dunia usaha. Kini dunia usaha tengah beradaptasi terhadap peluang dan resiko yang dihadapi. Banyak perusahaan mengatur ulang proses bisnisnya, cashflow, evaluasi hutang piutang, hingga tingkat penghasilan. Sementara untuk evaluasi, analisis dan pengambilan keputusan memerlukan dukungan informasi akuntansi. “Disinilah peran akuntansi digital,” tutur Prof. Aminullah Assagaf, MS., MM., M.Ak.

Membahas akuntansi digital di era new normal, Prof. Aminullah menuturkan adanya teknologi digital saat ini menjadi sebuah tantangan untuk profesi akuntan. Teknologi digital mempercepat pembuatan laporan keuangan sehingga memungkinkan mengurangi praktisi akuntan. Alumni Untag Surabaya Angkatan 1997 itu menyarankan, “SDM kedepan harus meningkatkan kompetensi diri dalam pengembangan akuntasi digital, meningkatkan interpersonal skills, intra-personal skills, business understanding skills dan technical skills agar mampu menjawab tantangan diera digital ini.”

Sementara itu, Prof. Dr. Hj. Tri Ratnawati, MS., Ak., CA. menyebutkan, UMKM saat ini tidak bisa kembali menjadi penyangga perekonomian seperti saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 lalu. Hal ini, menurutnya, disebabkan banyaknya UMKM yang belum paham pelaporan keuangan. Padahal Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sudah memberikan standar entitas Mikro Kecil Menengah yang diterapkan efektif mulai Januari 2018. “Lantas yang mengawal financial report dari UMKM, disini diperlukan peran profesi akuntansi,” papar Prof. Tri. Diharapkan saat new normal nantinya, banyak UMKM yang mandiri secara finansial.

Melihat pesatnya teknologi, utamanya akuntansi digital, Kaprodi Doktor Ilmu Ekonomi Untag Surabaya itu mengatakan, “teknologi bisa membuat tantangan bagi profesi akuntansi. Saya setuju sekali, tantangannya lebih besar, tapi bagaimana kita bisa merubah tantangan tadi menjadi opportunity dengan harus cepat berubah.”

Menjadi narasumber terakhir, Dr. Nur Sayidah, SE., M.Si., Ak. memaparkan materinya yang bertajuk “Pembentukan karakter berbasis nilai-nilai revolusi mental dalam pembelajaran akuntansi.” Hal ini berkaitan dengan banyaknya kasus korupsi dimana profesi akuntan juga terlibat. “Padahal akuntan adalah profesi terpercaya, harusnya jadi garda terdepan untuk mengurangi korupsi,” ujarnya. Menjadi seorang akuntan harus professional, namun hal tersebut harus dilandasi dengan nilai-nilai yang baik. Dilanjutkan olehnya, “karakter ini harus dibentuk semasa proses pembelajaran sesuai dengan nilai-nilai revolusi mental.” Ada beberapa poin yang terdapat dalam revolusi mental, di antaranya adalah program Gerakan Indonesia bersih, tertib, melayani, mandiri dan Bersatu. (ua/rz)

Login dengan Username dan password Siakad Anda