Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Manga Sebagai Media Belajar Bahasa Jepang

Manga dan anime merupakan budaya populer Jepang yang digemari kalangan anak muda. Manga, komik dan kartun memiliki pengertian yang sama. Manga berarti komik yang menggambarkan atau menceritakan kehidupan masyarakat Jepang. “Manga sendiri sudah dikenal sejak pertengahan abad IX dan dibaca oleh semua kalangan baik anak-anak, remaja hingga dewasa,” papar Umul Khasanah, S.Pd., M.Lit dalam webinar yang diadakan oleh prodi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya, Senin (13/7).

Dalam materinya yang bertema “Manga untuk Belajar Bahasa Jepang dan Kejepangan”, dosen yang akrab disapa Umul Sensei itu menyebutkan perbandingan jumlah manga yang ada di Jepang adalah 4 kali lipat dari total manga di seluruh dunia. Hal ini menjadi bukti bahwa manga menjadi bagian dari masyarakat Jepang. “Semua kalangan menyukai manga. Bahkan ibu rumah tangga, businessman, sampai karyawan juga membaca manga,” tutur Umul. Tema dan genre pada manga cukup bervariatif. Mulai dari laga, parodi, suspen, dewasa, olahraga, makanan hingga teka-teki. Karenanya, Umul menyarankan pembelajar Bahasa Jepang agar mencoba lebih membaca manga berbahasa Jepang dibanding terjemahan. Tujuannya agar menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang.

“Sangat menjemukan apabila kita hanya belajar teks didalam buku saja. Kita bisa belajar huruf dan kosa kata serta bisa membuat kita mempraktikkan menbaca huruf katakana, hiragana, furigana hingga kanju melalui manga,” terang Umul. Selain itu, dalam manga pembaca juga bisa mempelajari Kejepangan, seperti nama daerah, pengetahuan alam, sistem pendidikan hingga pola hidup masyarakat Jepang. Namun, saat mempelajari manga, Wakil Dekan FIB itu juga menyarankan agar berkonsultasi dengan guru maupun dosen Bahasa Jepang. Sebab tidak semua bahasa di dalam manga bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Drs. Cuk Yuana, M. Hum., menjelaskan berdasarkan jenis pembacanya, genre manga terbagi atas 5 jenis: kodomo (untuk anak-anak), josei (untuk wanita dewasa), seinen (untuk pria dewasa), shoojo (untuk remaja perempuan) dan shoonen (untuk remaja laki-laki). Umumnya, judul-judul manga yang sukses dapat diangkat menjadi animasi, misalnya Naruto, Bleach, One Piece dan masih banyak lagi. “Artinya bahwa manga merupakan embrio animasi,” terang Cuk Sensei, sapaan akrabnya. Animasi adalah film yang merupakan hasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak.

Pada awal penemuannya, film animasi dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian diputar sehingga muncul efek gambar bergerak. Namun, bahasa Jepang yang digunakan dalam animasi memiliki berbagai unsur dan jenis. Cuk sensei mencontohkan kata “cho” pada “chokawai” memiliki arti sangat, dan merupakan contoh penggunaan slang. “Didalam film animasi mempunyai bahasa khusus yang tidak akan pernah diajarkan di perguruan tinggi, kecuali didalam mata kuliah. Bahasa Jepang animasi menjadi salah satu mata kuliah yang diterapkan di prodi Sastra Jepang Untag Surabaya sebagai mata kuliah penciri khas,” ungkapnya. (ua)

Login dengan Username dan password Siakad Anda