Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Mahasiswa FH Raih Medali Emas Cabor Gulat dalam PORPROV

Agung Dwi Laksana, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menorehkan prestasi gemilang dalam Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jawa Timur VI Tahun 2019. Dalam kejuaraan tingkat provinsi ini mempertemukan atlet gulat dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur ini, dirinya meraih medali emas di cabang olahraga Gulat Kelas 97 Kg Gaya Bebas Putra. Pada babak final di Lamongan Sport Center, dia dihadapkan dengan pegulat dari Kabupaten Tuban. Sebelumnya Agung yang mewakili Jawa Timur, pernah meraih prestasi di kejuaraan sejenis tingkat ASEAN tahun 2016. “Tentu saya bersyukur. Alhamdulillah bisa menyumbangkan medali emas untuk Kota Surabaya,” katanya saat ditemui di Kantor Humas UNTAG Surabaya pada Kamis, (18/7).

Ketertarikan Agung pada gulat sudah sejak 6 tahun lalu, saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia menuturkan, telah bergonta ganti olahraga yang diminati, “Awalnya saya ikut karate. Ketika sudah besar, persaingan fisik tinggi dan saya tidak lolos. Akhirnya ayah saya mengenalkan pada mantan pelatih tinju. Sebentar berlatih tinju, pelatih mengenalkan saya pada pelatih gulat. Dari situ saya tertarik.” Agung mantap memilih gulat karena baginya gulat tidak  berefek samping, “Kalau atlet tinju, karate dan tarung derajat kan bisa terkena Parkinsen sedangkan pegulat tidak. Intinya kalau berlatih dengan benar maka tidak akan sakit. Olahraganya memang agak ekstrim dan terkesan zaman dahulu. Akan tetapi Rasulullah juga salah satunya menyarankan gulat.”

Pria kelahiran Singaraja, 20 April 1999 ini menuturkan, keikutsertaannya dalam PORPROV ini melalui berbagai seleksi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia Surabaya. “Saya dipilih bertanding karena memang cukup menurut bobot dan dianggap mampu bertanding,” katanya. Mahasiswa semester 3 ini mengaku, sebelum bertanding di PORPROV harus berlatih selama 6 bulan di Lapangan KONI Surabaya. “Sehari 2 kali latihan, masing-masing 2 jam. Ada 23 pegulat yang bertanding. Kami berlatih dengan latihan fisik seperti gym dan angkat berat. Latihan mental juga penting. Kami dibuat berbeda agar lebih berkarakter, misalnya rambut dicat. Jika penampilan beda dari yang lain, artinya siap bertanding,” tuturnya.

Menurutnya musuh paling berat rasa malas untuk latihan. Akan tetapi rasa wajib menang yang menjadi pecut baginya. “Saya merasa sudah wajib menang. Jadi ketika menang sudah bukan euforia menang. Karena memang sudah seharusnya menang. Saya bersyukur bisa mendapatkan prestasi ini,” katanya. Kendati demikian dia merasa bangga, “Saya bangga karena bisa berkuliah sambil latihan. Saya lebih bangga bisa menang dengan menjalankan keduanya  daripada menang karena meninggalkan salah satunya.” Atas prestasinya Agung berterima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya, “Terima kasih terutama kepada pelatih saya Sri Dwi Wahyudi, teman-teman sesama atlet, para dosen dan juga orang tua. Tak lupa, terima kasih, Tuhan.” (um/aep)

Login dengan Username dan password Siakad Anda