Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Kenalkan Kolak Hingga Negeri Sakura

Ketua Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Dra. Endang Poerbowati, M.Pd., pernah mencoba hidup di Jepang selama 2 tahun. Pengalaman tersebut diraihnya berkat Beasiswa Monbukagakusho/MEXT yaitu beasiswa bergengsi dari Pemerintah Jepang, “Untuk bisa ke sana saya menjalani ujian ketat hingga terpilih 20 orang yang diberangkatkan. Sebagai pengajar, kami dilibatkan terjun ke masyarakat.” Endang menuturkan masyarakat Jepang yang ditemuinya sangat tertarik dengan budaya Indonesia. Dia merasa bangga karena masyarakat Jepang di Yokohama telah menguasai Angklung. “Tentu menjadi tugas bagi saya untuk tahu budaya sendiri sebelum dibagikan kepada masyarakat Jepang,” katanya saat ditemui di Fakultas Sastra pada Jumat, (19/5).

Selama di Jepang wanita kelahiran Surabaya, 20 Juni 1966 ini mengaku telah belajar 5 budaya kebanggaan masyarakat Jepang, misalnya Ikebana seni merangkai bunga. Dia juga belajar cara minum teh ala Jepang yang dikenal sebagai Sado. Menurutnya meskipun sederhana, Sado mengajarkan tata cara dalam menerima tamu. Salah satu pengalaman lucu yang tak terlupa adalah saat dirinya mengajari masyarakat setempat memasak kolak pisang dan labu. “Mereka suka sekali dengan kolak buatan saya. Bahkan mereka memakannya dengan nasi karena dianggap makanan berat. Mereka antusias sekali dengan kolak dan meminta diajari cara membuatnya,” tutur Endang sambil tertawa.

Membawa predikat guru menurut Endang bukanlah hal yang mudah. Karena guru ditiru oleh siswanya. Selama setengah tahun pertama, dia dan teman-temannya hanya belajar dan belajar. Baru setelahnya berpindah dan bergabung dengan orang Jepang. Dia merasa beruntung bisa merasakan susahnya bekerja di pabrik Jepang, “Kami tidak terbiasa dengan keadaan orang pabrik. Merasakan susahnya bekerja selama 2 bulan penuh.” Tak hanya di pabrik, Endang juga berkesempatan menjajal profesi penerjemah di NHK, stasiun TV terbesar di Jepang, “Seleksinya cukup berat karena hanya dipilih 1 orang. Ketika video sudah dimulai, mata harus fokus karena ketika video selesai maka naskah terjemahan harus dikumpulkan.”

Kendati demikian, dia merasa salut dengan orang Jepang. “Di Jepang, selama bekerja atau bersekolah, handphone diletakkan di tempat khusus. Jadi mereka fokus bekerja dan belajar.” Dari mereka, Endang juga belajar tentang kedisiplinan waktu. “Saya belajar banyak dari kedisiplinan mereka yang sangat tinggi. Ketika berjanji, pasti tepat waktu dan selalu mendahului. Tidak pernah sekali pun telat,” tuturnya. Tak hanya itu dia berharap orang Indonesia bisa seperti orang Jepang yang bangga akan budaya nenek moyang dan kreatif dalam mengemasnya. “Mereka bangga memakai Yukata dan Havana. Mereka juga bangga dengan musik mereka. Contohnya AUN J yang mengemas alat musik tua menjadi komersil dan mudah dinikmati. Kalau tidak mulai dari diri sendiri untuk mencintai budaya kita, maka sulit menerapkan,” tutup Endang. (um/aep)

Login dengan Username dan password Siakad Anda