Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Jagongan Online Bahas Tri Dharma Perguruan Tinggi VS Intoleransi

Untag Surabaya dikenal sebagai kampus merah putih, yang penuh dengan toleransi ras, suku maupun agama yang berbeda-beda. Untag Surabaya berkesempatan menjadi salah satu narasumber kegiatan webinar Jagongan Online Bersama Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP) yang bertajuk “Tri Dharma Perguruan Tinggi vs Intoleransi”. Webinar ini mengusung 3 Narasumber bidang akademisi Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Berbicara mengenai intoleransi, saat ini generasi muda mengalami krisis etika dan nilai, bukan hanya pada nilai kebangsaan saja melainkan juga pada budi luhur dan kesantunan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga Surabaya, Senin (27/7). Dalam webinar, Suko menjelaskan dalam konteks radikalisme, kita tidak bisa menyalahkan anak muda melainkan butuh adanya tatanan baru dari negara.

Masih berbicara mengenai intoleransi, J. Subekti, SH., MM. memaparkan “Dalam menyusun mata kuliah umum seyogyanya diakomodasi mata kuliah sejarah nasional, sejarah pergerakan kemerdekaan dan pendidikan patrotisme, yang Untag Surabaya sudah menerapkan dan melakukannya.” Menurutnya, Atmosfer kompetisi antar Perguruan Tinggi disebabkan regulasi pendidikan yang cenderung meminta mahasiswa untuk berkompetisi bukan berkolaborasi. Melihat dari visi Indonesia dalam hal pendidikan, tercantum pada pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara misinya terdapat pada pasal 31 UUD ayat 3 dan ayat 5. “Kalau kita tafsirkan, pendidikan di Indonesia harus didasari oleh nation and character building, baru kemudian ilmu dan teknologi,” simpulnya. Pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berpendapat pentingnya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menyusun kurikulum yang memiliki muatan sejarah Indonesia. “Hal ini dalam upaya mengembalikan kepribadian nasional dan menangkal gerakan intoleransi,” jelasnya.

Sementara itu, Gus Nizam menyebut munculnya masyarakat intoleran disebabkan kondisi spiritual yang rendah sehingga mudah diprovokasi atau diajak untuk berbuat anarkis. “Tidak ada solusi untuk menghentikan penyebab seseorang intoleran kecuali kita ajak mendalami spiritual keagamaannya,” terangnya. Dilanjutkan oleh Gus Nizam, adanya perbedaan harus disyukuri karena perbedaan sendiri merupakan suatu keniscayaan. Dari sana diharapkan tumbuhnya rasa toleran dan saling menghormati terhadap kelompok lain.

Hal serupa juga disampaikan oleh I Gede Putu Suardana. Menurutnya, membangun sebuah bangsa dengan beraneka ragam suku, budaya hingga kepercayaan membutuhkan perjuangan dan perngorbanan dari individu masing-masing. Menyimpulkan dari 4 tahapan kehidupan Hindu, Suardana menyampaikan konsep kecerdasan menjadi dasar dalam tiap tingkatan manusia. Karena menurutnya, pondasi utama yang perlu dibangun sejak awal adalah ilmu pengetahuan. “Dengan memiliki pengetahuan dan budi pekerti, akhirnya kita dapat memilih mana yang baik dan buruk,” ungkapnya. (ua/rz)

Login dengan Username dan password Siakad Anda