logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Gandeng BSIS, Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Melalui Bank Sampah

Permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi hal penting untuk dijadikan perhatian dari berbagai kalangan, karena jika tidak ditangani dengan baik akan berimbas pada kerusakan lingkungan. Untuk itu, sebagai upaya mengurangi volume sampah khususnya sampah kering serta menumbuhkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah, tim Kerja sama Kurikulum (KSK) Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memberikan solusi melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang fokus pada pemilahan dan pengelolaan sampah dan diberi nama Bank Sampah Untag. 

Salah satu anggota tim KSK – Dra. Noorshanti Sumarah, S.I.Kom., M.I.Kom., mengatakan pada dua semester sebelumnya program ini telah dikonversikan hanya pada mata kuliah tertentu seperti kewirausahan, namun dalam semester genap ini tidak ada batasan mata kuliah. “Program ini sudah diberlakukan mulai semester genap ini untuk dikonversikan pada mata kuliah ,” paparnya.

Ia mengaku dalam menjalankan tiga program lingkungan adanya Bank Sampah ini merupakan salah satu langkah untuk mengurangi sampah anorganik. “Jadi, dalam program lingkungan ada 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Untuk mengimplementasikan Reduce ini salah satu caranya dengan menghimpun atau mengelola sampah anorganik,” terangnya. Bank Sampah ini akan diterapkan dalam program magang yang melibatkan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi semester 5 keatas.

Dalam pelaksanaannya, sebelum terjun ke lapangan mahasiswa diberi pembekalan terlebih dahulu oleh prodi, pendamping lapangan dan juga mitra. “Mitra yang bekerjasama dengan kami adalah Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) dan BSIS ini yang akan menjelaskan serta mengajarkan mereka terkait teknis pelaksanaan di lapangan. Kami tim KSK hanya mendampingi," ujarnya.

Hal pertama yang harus dilakukan mahasiswa pada saat turun ke lapangan adalah mencari nasabah seperti warkop yang ada di sekitar kampus, masyarakat, dan hotel. “Setiap mahasiswa mencari minimal 15 nasabah, kemudian diberikan edukasi mengenai mengapa sampah harus di pilah, bagaimana cara memilahnya, bagaimana cara mengelompokkannya,” papar dosen prodi Ilmu Komunikasi ini. Ketika sudah berhasil mengumpulkan sampah kering dari nasabah, sampah tersebut dikumpulkan terlebih dahulu di ruang penyimpanan yang terletak di belakang kampus, kemudian dipilah dan ditimbang ulang. “Jika dirasa sudah cukup maka akan disetorkan atau dijual ke BSIS untuk distribusikan kepada pihak yang akan membelinya untuk didaur ulang kembali,” tegas Shanti. Selain itu, hasil dari penjualan sampah akan digunakan untuk operasional Bank Sampah Untag Surabaya dan akan dibagikan kepada mahasiswa yang turut mengelola Bank Sampah ini.

Shanti mengaku sejauh ini sudah banyak nasabah yang menyetorkan sampahnya di Bank Sampah Untag Surabaya. “Tidak hanya masyarakat umum saja, namun warga kampus juga sudah mulai menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah Untag,” tegasnya. Dengan begitu dirinya berharap Bank Sampah yang sudah berjalan dua semester sejak akhir 2021 ini dapat diupayakan untuk terus berkelanjutan. “Harapannya tentu Bank sampah ini ada terus agar semakin banyak masyarakat diluar maupun didalam Untag Surabaya yang mengerti bagaimana cara bertanggungjawab atas sampahnya, dan lebih peduli terhadap lingkungan,” harapnya. (oy/rz/kr)



PDF WORD PPT TXT