Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

HIMAKOTA Gelar Seminar Nasional dan Call for Paper

Perkembangan zaman turut berdampak pada perkembangan dalam kajian komunikasi dan budaya. Berangkat dari latar belakang ini, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agsutus (UNTAG) Surabaya menggelar Seminar Nasional dan Call for Paper pada Kamis, (29/11). Dengan tema ‘Komunikasi, Literasi, Media dan Budaya’ yang bertajuk Negeri Komunikasi. Bertempat di Gedung Graha Wiyata lantai 9, acara dibuka langsung oleh Rektor UNTAG Surabaya-Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA.

Empat pembicara utama dipandu oleh Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya-AAI Prihandari Satvikadewi, M.Med.Kom. yang tampil sebagai moderator. Guru Besar FISIP UNTAG Surabaya-Prof. Dr. Sam Abede Pareno, MM., MH. memaparkan materi terkait Pergantian Kekuasaan dan Pergeseran Nilai-Nilai Budaya. “Kekuasaan mempengaruhi nilai-nilai yang ada. Misalnya saat kekuasaan otoriter Soeharto, segala kebijakan ditentukan penguasa dan tidak ada aspirasi masyarakat sebagai imbuh. Transisi itu perlu. Kalau sekarang pemerintahan Jokowi sudah sadar,” terang Penasehat Persatuan Wartawan Jawa Timur ini. Karena itu, konsolidasi, kata Prof. Sam adalah kunci.

Adapun materi ‘Implementasi Kebudayaan Nasional: Konsep dan Implementasinya’ disampaikan oleh Prof. Dr. Setia Yuwana, MH. yang menyatakan bahwa   budaya adalah cara memahami lingkungan dan bagaimana menjadi bahagia. “Strategi kebudayaan itu dokumen tentang arah pemajuan kebudayaan berlandaskan potensi, situasi dan kondisi kebudayaan Indonesia untuk mewujudkan tujuan nasional. Peningkatan derajat kemanusiaan secara seimbang badaniah rohaniah sebagai bangsa sejahtera dan bahagia,” jelasnya.

Pemimpin Redaksi Medcom.id-Abdul Kohar banyak menyoroti peranan media di tengah maraknya hoax, “Sekarang semuua orang mudah mengakses media sosial untuk mendapat informasi baik yang benar maupun salah. Saat ini orang lebih percaya media sosial, karenanya menjadi tantangan bagi kami media mainstream.” Menurutnya di era post truth berdampak pada konsumen informasi, “Orang hanya ingin mendapatkan informasi sesuai keinginan dia tapi menyampingkan fakta, inilah post truth.”

Cepatnya arus informasi harus diimbangi dengan selektivitas informasi dan membaca pop culture dengan cepat. Solusi inilah yang ditawarkan oleh Ketua ASPIKOM Pusat-Dr. Muhammad Sulhan, M.Si. dalam pemaparannya. “Itu juga bisa digunakan untuk menjual budaya kita. Jika ingin menduniakan budaya, gunakan teknologi dan kekuatan komunikasi. Sejalan dengan hal ini dibutuhkan kemampuan memahami dan mengelola budaya agar bisa diterima banyak orang. Karena budaya melekat secara luar biasa dan menjadi salah satu kunci untuk menyelenggarakan kehidupan yang lebih baik.” (um/ze)

Login dengan Username dan password Siakad Anda