Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

HIMAKOTA Gelar "Bukan Kuliah Biasa"

Perkuliahan jarak jauh guna meminimalisir penyebaran wabah COVID-19 dimanfaatkan oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dengan mengadakan berbagai kegiatan yang positif. Salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOTA) dengan menggelar seminar daring bertajuk ‘Bukan Kuliah Biasa’. Rangkaian acara yang digelar pada Selasa-Sabtu, (12-16/5) ini mengusung tema ‘Budaya Baru Dalam Pendidikan’.

Sofia Nailul Izzah selaku Ketua Pelaksana mengatakan, “Kami ingin memberikan pemahaman mengenai budaya baru dalam pendidikan di masa pandemi ini. Karena kehidupan harus beradaptasi dengan cepat dan tepat termasuk pendidikan dalam menggunakan media digital sebagai media belajar.” Dia mengaku sinyal menjadi hambatan dalam mengadakan kegiatan ini. Pasalnya seluruh persiapan dan koordinasi antar panitia dilakukan secara daring. “Ada beberapa panitia yang kesulitan sinyal, hambatannya disitu. Bahkan pada saat seminar sempat ada gangguan, laptop moderator kami jaringannya tiba-tiba melemah,” tuturnya.

Senada dengan tema, AAI Prihandari Satvikadewi., M.Med.Kom. selaku pemateri menyebutkan, “Semakin kompleks hidup kita sekarang, bukan hanya berjejaring. Kita hidup di dunia simulasi, antara dunia nyata dan digital. Dunia digital bukan hanya awang-awang saja tapi kita benar-benar ada di dalamnya.” Menurut Ketua Prodi Ilmu Komunikasi ini dunia digital melahirkan literasi digital yang membawa manusia untuk menyadari hidup di dimensi yang beragam. Manusia berinteraksi dengan yang mungkin bukan manusia mungkin melalui computer. “Dalam budaya digital kita harus tahu kita hadir sebagai apa, kita sebagai followers, scammers, atau content creator. Supaya nggak stres,” paparnya.

Adapun Karolin Rista M.Psi., Psikolog. menimpali dari sisi ‘Anti Stres #dirumahaja’. Psikolog yang akrab disapa Kak Olin ini menjelaskan, “Dalam kehidupan itu ada yang namanya katarsis, dimana kita mengeluarkan tekanan dalam hidup kita untuk disalurkan ke tempat lain.” Dia pun mengisahkan cerita menarik saat Pak Habibie kehilangan Ibu Ainun, “Disitu terjadi peristiwa besar dalam hidupnya, terjadi level stres disitu, karena beliau sulit makan serta mengurangi kontak sosial.” Katarsis, kata Kak Olin, dipilih oleh Pak Habibie, “Beliau menulis. Ada juga yang secara sederhana katarsis itu ngomong depan cermin atau tembok itu tadi. Normal untuk melakukan katarsis.” (um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda