Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Halal Bihalal, Momen Persaudaraan dan Kebersamaan YPTA Surabaya

Pasca Hari Raya Idul Fitri 1440 H, Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya mengadakan Halal Bihalal Keluarga Besar YPTA Surabaya pada Kamis (13/6). Bertempat di Gedung Graha Wiyata lantai 9, halal bihalal diikuti oleh seluruh pengurus YPTA Surabaya, jajaran dosen dan tenaga kependidikan UNTAG Surabaya, Kepala Sekolah dan guru SMATAG serta SMPTAG Surabaya, serta Takmir Masjid Baitul Fikri. Bertemakan Mempererat Persaudaraan dan Mengokohkan Kebersamaan dalam Kebhinekaan, halal bihalal ini dibuka dengan lantunan Surat Al-Mujadalah oleh Nuril Nabila.

Dalam sambutannya, Bendahara YPTA Surabaya - J. Subekti, SH., MM., mengatakan bahwa warna merah putih pada backdrop halal bihalal merupakan simbolisasi Pancasila yang diamalkan oleh YPTA Surabaya. Menurutnya, Pengurus YPTA Surabaya tidak berarti, tanpa adanya unit dan satuan pendidikan. Hal ini merupakan wujud YPTA Surabaya yang Bhinneka Tunggal Ika. Subekti mengaku, “Ketika saya masuk ke dalam ruangan ini saya melihat sinar, cahaya ilahi. Artinya kita semua telah kembali berjiwa suci”. Kepada seluruh peserta, dia mengajak untuk tetap mengabdi sebagai abdi negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak lupa, mewakili Pengurus YPTA Surabaya dia memohon maaf atas kekhilafan dan melupakan segala kesalahan. “Orang yang melupakan pasti memaafkan, tetapi memaafkan belum tentu melupakan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Moh. Jufri Ahmad, SH., MM., MH. - Pengurus Badan Pengelola Masjid Baitul Fikri menerangkan sejarah halal bihalal. “Tradisi pasca Ramadan yang pasti kita temui adalah silaturrahmi melalui halal bihalal. Faktanya kehadiran halal bihalal tidak terlepas dari tokoh nasionalis dan religius, Bung Karno yang memanggil KH. Hasbullah untuk meminta saran. Ide mengadakan silaturahmi mengundang tokoh politik saat itu menjadi cikal bakal halal bihalal. Nasionalis dan religius tak terpisah dari Indonesia,” terangnya. Jufri merasa senang karena semarak Ramadhan di UNTAG Surabaya ditandai dengan partisipasi aktif warga UNTAG Surabaya melalui wadah donatur serta dalam tarawih dan kultum selama 30 hari.

Tak ketinggalan, halal bihalal diisi dengan tausiyah oleh Ustazah Tan Mei Hua. Senada dengan tema, dia menyampaikan bahwa dunia beraneka ragam di mana bukan hanya hidup umat Islam, tetapi ada kaum lain. “Islam itu mengajak bukan mengejek, tidak pernah membenci tetapi mengasihi, tidak pernah memukul tetapi merangkul,” katanya. Menurut Ustazah Mei, untuk menjadi bagian dari rahmatan lil ’alamiin dapat terwujud secara otomatis apabila kita menyadari bagaimana posisi kita. “Kita harus menghargai perbedaan pendapat, tujuannya untuk saling belajar satu sama lain. Jangan merasa menonjol. Kita diciptakan berbeda, berbangsa, untuk saling mengenal. Apalagi UNTAG Surabaya terlihat besar karena usaha banyak orang. Kita harus punya sikap rendah hati seperti tukang parkir, berpikir bahwa semuanya adalah titipan. Terakhir harus banyak memberi, tidak banyak menuntut,” tutupnya. (um/aep)

Login dengan Username dan password Siakad Anda