Hadirkan Pakar dari Jepang, Fakultas Psikologi Untag Surabaya Gelar Kuliah Tamu Internasional

Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional bertema “Community and Socio-Cultural Approach to Solve Psychological Problems in Global Perspective” pada Jumat, 7 November 2025. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Auditorium R. Soeparman Hadipranoto, Graha Wiyata lantai sembilan ini dihadiri ratusan mahasiswa psikologi dari berbagai semester di lingkungan Untag Surabaya

Wakil Dekan Fakultas Psikologi, Dr. Mamang Efendy, S.Pd., M.Psi., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi kampus. “Ini adalah momen yang sejalan dengan visi internasionalisasi Untag Surabaya. Kegiatan ini penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai cara menyelesaikan masalah psikologis yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga mempertimbangkan pengaruh sosial, budaya, dan konteks masyarakat global tempat individu itu hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., dalam sambutannya menegaskan pentingnya kontribusi psikolog bagi masyarakat. “Menjadi psikolog berarti harus bermanfaat bagi orang lain. Prodi Psikologi Untag Surabaya memiliki keunggulan luar biasa dalam hal prestasi, pengabdian, serta kerja sama lintas institusi yang terus berkembang,” ungkapnya.

Kuliah tamu ini dimoderatori oleh Alifia Ananta, M.Psi., Psikolog, dan menghadirkan narasumber internasional dari Jepang, Hanako Suzuki, Ph.D., dosen Ritsumeikan University.

Dalam pemaparannya, Hanako memperkenalkan konsep Social and Emotional Learning (SEL) sebagai pendekatan penting dalam bidang psikologi sosial. “SEL adalah pendekatan yang mengajarkan kemampuan mengelola emosi, memahami diri dan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Tujuannya agar individu tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara emosional dan sosial,” jelasnya.

Hanako juga menjelaskan bagaimana budaya memengaruhi ekspresi dan pemahaman emosi. “Setiap negara memiliki nilai dan norma yang berbeda dalam mengekspresikan emosi. Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, anak-anak didorong untuk terbuka dan berani menyampaikan pendapat. Sementara di negara-negara Timur, termasuk Jepang, anak-anak lebih diarahkan untuk menjaga keharmonisan sosial dan bersikap sopan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hanako menambahkan bahwa pendekatan SEL di Jepang lebih berfokus pada pengendalian diri dan empati sosial. “Pendekatan SEL di Jepang menekankan kontrol emosi serta tanggung jawab terhadap kelompok. Tujuan utamanya adalah menjaga keharmonisan dalam komunitas, bukan menonjolkan diri sendiri,” ujar Hanako.

Selain itu, Hanako menekankan peran penting guru dalam pendidikan sosial dan emosional. “Guru di Jepang bukan hanya pengajar akademik, tetapi juga pembimbing moral dan sosial. Mereka membantu siswa untuk mengatur emosi dan menyelesaikan konflik dengan damai,” tambahnya.

Melalui kuliah tamu internasional ini, Fakultas Psikologi Untag Surabaya menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring global dan memperkaya wawasan mahasiswa mengenai praktik psikologi lintas budaya. (ra)