Hadirkan Alumni Sekaligus Arsitektur Rumah Sakit Islam Surabaya, Prodi Arsitektur Untag Surabaya Gelar Kuliah Tamu

Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Penerapan Bangunan Hijau pada Bangunan Tinggi di Surabaya: Studi Kasus RSI 1 Surabaya”. Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa arsitektur ini diselenggarakan pada Rabu, 5 November 2025, di Ruang Meeting Gedung Prof. Dr. H. Roeslan Abdulgani lantai dua.

Ketua Program Studi Arsitektur, Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap konsep green building dalam arsitektur modern. “Bangunan hijau merupakan isu utama dalam arsitektur modern karena dunia tengah menghadapi krisis energi dan perubahan iklim. Dengan memahami penerapan nyata di Surabaya, mahasiswa akan menyadari peran arsitek dalam keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber sekaligus alumni Prodi Arsitektur Untag Surabaya, Reni Wijayanti, S.T., yang pernah merancang desain Rumah Sakit Islam (RSI) 1 Surabaya. Dalam pemaparannya, Reni menekankan pentingnya tanggung jawab arsitek terhadap lingkungan. “Sangat penting bagi arsitek untuk memperhatikan bumi dan alam dalam setiap rancangan, terutama untuk bangunan rumah sakit. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah keberadaan IPAL, yakni Instalasi Pengolahan Air Limbah yang berfungsi untuk mengolah limbah cair agar aman dibuang ke lingkungan atau bahkan dapat dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Reni juga menguraikan tantangan desain bangunan di iklim tropis seperti Indonesia. “Negara kita lebih sering mengalami musim panas, sehingga energi yang paling banyak digunakan adalah energi listrik, seperti AC dan kipas angin, terutama di kota-kota panas seperti Surabaya. Karena itu, penting bagi arsitek untuk merancang bangunan yang hemat energi, tidak pengap, tidak mudah panas, dan memiliki sirkulasi udara yang baik,” tuturnya.

Lebih lanjut, Reni berbagi pengalamannya saat menghadapi klien di lapangan. “Sebagian besar klien ingin memanfaatkan seluruh lahan untuk bangunan dan tidak rela menyediakan ruang terbuka hijau. Di sinilah kreativitas arsitek diuji. Namun, apa pun tantangannya, kita harus tetap patuh pada KRK atau Keterangan Rencana Kota,” ungkapnya.

Selain itu, Reni juga menyoroti pentingnya penggunaan alat pengukur kelembapan dalam proses perancangan bangunan. “Protimeter adalah alat pengukur kadar kelembapan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kelembapan pada material bangunan. Alat ini membantu arsitek memahami kondisi material agar desain yang dihasilkan lebih presisi dan tahan lama,” terangnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Arsitektur Untag Surabaya diharapkan tidak hanya memahami konsep green building secara teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam karya desain yang berkelanjutan. Untag Surabaya berkomitmen mencetak arsitek muda yang inovatif, peduli lingkungan, dan siap berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (ra)