logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

FGD Fakultas Ilmu Budaya Bahas Budaya Lokal Lintas Budaya

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menggelar Focus Group Discussion (FGD), bertajuk “Pemahaman Budaya Lokal Dalam Konteks Lintas Budaya”, kegiatan diselenggarakan secara hybrid bertempat di Gedung Prof. Dr. Roeslan Abdul Gani lantai 10 Untag Surabaya, (15/12). FGD menghadirkan dua narasumber, yakni Dwi Bintoro, ST., dan Napi Setiawan. Keduanya merupakan kepala desa dan ketua Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) dari desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Desa Plunturan merupakan desa mitra FIB Untag Surabaya dalam pelaksanaan Matching Fund 2021.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Untag Surabaya – Mateus Rudi Supsiadji, S.S., M.Pd., menuturkan kegiatan FGD menjadi bagian dari kurikulum mata kuliah Cross Cultural Understanding (CCU) atau Pemahaman Lintas Budaya. Pada mata kuliah ini dibahas mengenai pertemuan budaya. “Ini merupakan kesempatan yang berharga sebab beliau berdua merupakan tokoh-tokoh pelaku kesenian, telah malang melintang mempublikasikan kesenian,” tutur Rudi.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor 1 – Harjo Seputro,s ST., MT., yang turut hadir mengapresiasi kegiatan tersebut. “Universitas mempunyai kewajiban untuk meningkatkan atmosfer akademik sehingga kegiatan seperti ini harus berlangsung secara rutin dan semarak ditiap Fakultas dan Prodi,” papar Harjo. Wakil rektor yang juga dosen Fakultas Teknik itu menuturkan, kegiatan serupa FGD menjadi salah satu wujud Perguruan Tinggi dalam pemberdayaan masyarakat berkelanjutan utamanya dalam kegiatan Matching Fund 2021. “Perguruan Tinggi punya kewajiban untuk melakukan inovasi dalam memberdayakan SDM untuk melakukan kegiatan-kegiatan dengan mitra. Jadi hasil akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat hingga budaya literasi digital,” terang Harjo.

Dalam materinya, Dwi Bintoro, menjelaskan secara detail kebudayaan hingga kesenian yang ada di desa Plunturan. Misalnya, kesenian Reyog Onggopati yang masih mengunggulkan keaslian cerita, gerak dan properti. Pihak desa juga secara aktif melakukan regenerasi pelaku kesenian Reyog Onggopati. “Untuk pelestarian budaya dimulai dari usia dini, misalnya pada reyog regenerasi dilakukan pada anak usia dini yang disebut Putuk Onggopati,” jelasnya. Selain itu, regenerasi juga dilakukan pada remaja kartar (Taruna Onggopati), ibu-ibu (Kionggopati Putri) hingga laki-laki dewasa (Reyog Onggopati). Sementara itu, Napi Setiawan membahas desa wisata budaya secara komprehensif. Menurutnya, setiap desa memiliki potensi untuk menjadi desa wisata. “Tergantung dari niatan dan inisiatif sebab ada 17 komponen yang harus disiapkan untuk menyiapkan desa kreatif. Ini menurut pak Menteri, Sandiaga Uno. Nah dari 17 komponen itu, kira-kira mana yang layak. Salah satu dari itu bisa kita munculkan, mana yang menonjol kita tata menjadi ikon desa” papar Napi. (ua)



PDF WORD PPT TXT