logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Fakultas Psikologi Soroti Pentingnya Komunitas dalam PPKS

Kekerasan seksual masih menjadi hal yang tabu di tengah masyarakat Indonesia dan korban masih kerap disalahkan. Peranan komunitas dianggap perlu untuk mencegah kekerasan seksual terjadi. Hal ini dibahas dalam Seminar Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bertema ‘Pemberdayaan Komunitas sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual’ pada Sabtu, (24/9). Bertempat di Auditorium Gedung Kantor Pusat Yayasan dan Rektorat, peserta merupakan mahasiswa lintas angkatan.

Dalam materi ‘Pemberdayaan Komunitas Perempuan untuk Menghadapi Kekerasan Seksual’, Ketua Asosiasi Psikologi Forensik Jawa Timur - Riza Wahyuni, S.Psi, M.Si, Psikolog mengatakan bahwa seiring perkembangan teknologi, kekerasan seksual turut beradaptasi. “Pelecehan melalui media sosial banyak terjadi sekarang. Hati-hati berteman karena kadang melanggar asusila,” katanya. Riza menyoroti menurunnya kasus kekerasan seksual. “Angka kekerasan seksual memang turun tapi kualitas kasus tinggi. Kasus ini menjadi cukup luar biasa dan Jawa Timur selalu jadi sorotan,” ungkapnya.

Lingkungan kampus, lanjut Riza, berpotensi terjadi kekerasan seksual. “Menjadi penting untuk memperhatikan dan waspada pada kasus ini karena kampus jadi tempat yang rentan terjadi kekerasan. Seiring perjalanan waktu semakin banyak kasus yang terungkap, sehingga edukasi menjadi bagian yang penting,” imbuhnya. Riza mengapresiasi Untag Surabaya karena telah menginisiasi Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) untuk melindungi sivitas akademika. “Tak hanya edukasi, Satgas PPKS berperan untuk  pencegahan kekerasan seksual dan untuk tindak lanjut serta penanganan dilakukan oleh pemerintah,” jelasnya.

Materi ‘Penanganan Psikologis pada Korban Kekerasan Seksual’ disampaikan oleh Bintara Urusan Umum Bidang Humas Polda Jatim - Ajie Setya Atmaja, M. Psi., Psikolog. Dia menyebutkan bahwa Psikolog Forensik harus siap menangani para korban kekerasan seksual. “Pentingnya bagaimana Psikolog berperan di masyarakat, maka harus memfasilitasi para klien,” katanya. Ajie menambahkan bahwa harus mampu melakukan pendekatan pada klien sebelum melakukan penilaian.  “Sebelum pendekatan harus ada rapport, jadi jangan ujug-ujug tanya secara personal,” sebutnya.

Senada dengan Riza, Ajie setuju bila dukungan sosial penting bagi korban kekerasan seksual. “Social support penting untuk melakukan perubahan, apalagi hanya dikit yang sadar melapor. Percuma kalau keluarga tidak dilibatkan dalam proses,” ujarnya. Ajie menegaskan pentingnya Psikolog untuk mendampingi klien. “Kita harus mendampingi para korban kekerasan untuk menilai bagaimana dia terguncang. Setelah assessment, dokumen diserahkan ke penyidik dan bersifat rahasia,” tegasnya.

Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Dr. Rr. Amanda Pasca Rina, M.Si., Psikolog berharap mahasiswa dapat menyerap ilmu dengan baik. “Fakultas menghadirkan ahli yang punya pengalaman berhadapan dengan klien yang terkait pencegahan kekerasan seksual. Semoga mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan ini,” katanya. Seiring implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Amanda mendorong mahasiswa untuk mengikuti program yang ditawarkan fakultas. “Mahasiswa bisa magang di lembaga para Narasumber. Dengan demikian bukan hanya cerdas secara keilmuan, tapi juga siap bekerja. Harus senang bisa menimba ilmu, agar ketika lulus bisa segera bekerja,” tutupnya. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT