logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Fakultas Psikologi Ingin Cetak Konselor Psikologi Masa Depan

Permasalahan psikologis masyarakat yang kian kompleks menuntut hadirnya Konselor Psikologi. Hal ini melatarbelakangi Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Seminar bertema ‘How To Be A Good Counselor’ pada Minggu, (25/9). dengan menghadirkan Konselor dan Dosen Universitas Gadjah Mada - Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S. Bertempat di Auditorium Gedung Kantor Pusat Yayasan dan Rektorat lantai 6, peserta yang terlibat merupakan mahasiswa lintas angkatan dan jenjang studi. Seminar dipandu oleh Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Karolin Rista, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Turut hadir secara langsung Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya - Dr. Rr. Amanda Pasca Rina, M.Si., Psikolog yang sekaligus membuka kegiatan. Dr Amanda mengatakan bahwa Konselor merupakan salah satu profesi yang bisa diambil oleh lulusan Psikologi. “Hari ini dengan sengaja kita menghadirkan Konselor Ahli. Mahasiswa bisa mendapat pengetahuan dan opsi profesi di masa depan,” katanya. Amanda berharap, pelaksanaan serangkaian seminar dapat bermanfaat bagi peserta. “Harapannya mahasiswa bisa banyak belajar, sehingga setelah lulus lebih siap kerja,” harapnya.

Konselor dan Dosen Universitas Gadjah Mada - Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S. tampil sebagai pembicara dan menjelaskan bahwa kehadiran klien bukan tanpa alasan. “Mereka punya motivasi berubah. Kalau tidak, mending kunci diri sendiri kamar. Jadi ketika orang butuh bantuan pasti datang ke Konselor,” jelasnya. Dosen yang akrab disapa Etik ini menambahkan bahwa Konselor berperan untuk membantu. “Kita sebagai helper, jadi mesti menciptakan atmosfer positif agar klien belajar berelasi dengan dirinya sendiri,” tambahnya.

Etik menegaskan bahwa dalam konseling ada persyaratan yang harus dipenuhi. “Tujuan konseling menciptakan well-being, jadi harus meningkatkan kelebihan dan menurunkan kekurangan. Hal ini melalui proses relationship yang baik,” tegasnya. Menurutnya, Konselor harus membangun kepercayaan dengan klien. “Di tahapan awal jangan tembak langsung dengan pertanyaan. Kita harus meyakinkan klien, rapport diperlukan untuk meningkatkan hubungan baik dengan mereka,” imbuhnya.

Lebih lanjut Etik menjelaskan bahwa asesmen harus berdasarkan gejala psikologis klien. “Kalau tanpa asesmen maka wawancara dan observasi harus kuat, Konsuler harus bisa melakukan probing. Tahan judgement, konseling bicara tentang proses,” jelasnya. Etik melanjutkan bahwa Konselor perlu memperhatikan frame of reference klien. “Kita harus membantu klien untuk memahami cara berpikir klien,” lanjutnya.

Empati dan kongruensi, sebut Etik, menjadi hal penting. “Kita berempati dengan cerita mereka tanpa perlu menceritakan pengalaman kita. Berikan kesempatan pada klien untuk berbicara. Parafrase pernyataan mereka dan berikan respon,” jelasnya. Dia mengungkapkan bahwa Konsuler perlu memperhatikan informant sense. “Proses tidak boleh  merugikan diri dan orang lain. Hal ini sudah dibahas dalam Undang-Undang dan dalam kode etik. Asesmen pada konseling bertujuan mengumpulkan data lengkap dan komprehensif untuk meraih pemahaman tentang klien,” tutupnya. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT