logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Dosen Teknik Informatika Raih Hibah Paten, Ciptakan READI Alat Pendeteksi Asma

Angka pengidap asma dan penyakit pernapasan di Indonesia kian meningkat di setiap tahunnya. Kondisi ini menarik perhatian Agus Hermanto, S.Kom., M.Kom. Dosen Prodi Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya untuk menciptakan alat pendeteksi ruangan yang berpotensi memicu penyakit pernapasan yang dinamakan READI (Respiratory Distress Detection). Agus meraih Bantuan Biaya Pendaftaran Permohonan Paten dan Pemeriksaan Substantif Paten Hasil Seleksi Unggulan Berpotensi Kekayaan Intelektual (UBER-KI) Tahun 2022 dengan judul proposal penelitian berjudul ‘Respiratory Distress Detection Paten Sederhana’.

Saat ditemui di Kantor Prodi Teknik Informatika Untag Surabaya, Agus memaparkan bahwa alat buatannya unggul karena dilengkapi kecerdasan buatan. “Untuk memasukkan artificial intelligence kami perlu testing selama tujuh bulan,” paparnya. Kesederhanaan desain, tambah Agus, merupakan bagian penting dalam membuat alat kesehatan. “Belum ada alat deteksi penyakit pernapasan yang portabel, sehingga alat ini diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” imbuh Kepala Bagian Audit Mutu Internal Akademik Badan Penjaminan Mutu Untag Surabaya ini.

Diterangkan oleh Agus bahwa penelitian ini dilakukan dengan menggandeng mahasiswa dan dokter spesialis anak. “Alat ini merupakan tugas akhir mahasiswa yang saya modifikasi menjadi lebih portabel dan ditambahi artificial intelligence. Untuk sampelnya memang menggunakan anak, tapi alatnya bisa digunakan siapapun,” terangnya. Menurutnya, alat yang dibuat dapat mendeteksi polutan. “Penelitian yang dilakukan untuk mendeteksi ruangan yang ideal seperti apa. Alat praktis untuk mengetahui ruangan normal tanpa polutan,” katanya.

Agus menyebutkan bahwa tak hanya alat fisik, dia juga membuat aplikasi khusus. “Aplikasi READI dapat di-download di Android. Terdapat sensor jantung, debu dan suhu tubuh. Jadi ada juga alat sensor ke tubuh,” sebutnya. Dengan aplikasi tersebut, Agus menjelaskan bahwa dokter dapat memantau pasien meski berada di tempat terpisah. “Berbekal sensor yang ada, bisa menghubungi dokter. Misal kambuh di sekolah, maka dokter di rumah sakit pun bisa memantau,” jelasnya.

Lebih lanjut Agus menuturkan bahwa sebelum mengajukan hibah paten, dirinya menyiapkan proposal. “Untuk penelitiannya sendiri di bulan Januari hinga Agustus 2021, itu yang saya lakukan modifikasi. Setelah itu, akhir Maret 2022 saya buat deskripsi paten dan mendapat revisi saran dosen senior,” lanjutnya. Tak banyak proses seleksi lainnya, proposal Agus langsung lolos hibah. “Setelah menunggu tiga bulan baru dapat pengumuman lolos pendanaan. Dari 300 peserta dan tidak semua lolos, yang lolos 200 sekian,” sebutnya.

Setelah dinyatakan lolos, Agus dan peserta lainnya mengikuti pendampingan dari Kemendikbud Ristek RI. “Akhir Agustus lalu ada pendampingan dan pengarahan untuk perbaikan pengajuan paten hingga layak daftar. Alhamdulillah setelah tiga minggu, paten saya sudah layak daftar. Saat ini menunggu terbit, biasanya dua hingga tiga bulan kedepan,” tuturnya. Ke depan, Agus berharap dapat memproduksi alatnya dapat membantu dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. “Kebermanfaatan alat itu jika digunakan non eksklusif. Setelah melihat animo masyarakat dan kalibrasi alat, akan dijual bebas,” tutupnya. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT