Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Dimas Firmansyah Sabet Medali Emas Kejuaraan Internasional

Dimas Firmansyah, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menorehkan prestasi gemilang dalam 2nd Nakamura Indonesia Friendship Cup 2019 di Wisma Balai, Bandung. Dalam kejuaraan Karate Kyokushin tingkat intenasional ini dirinya berhasil membawa pulang medali emas dan menyisihkan ratusan peserta Kategori Putra 18 Tahun 55-65 kg. “Kejuraaan ini diadakan 26-27 Oktober kemarin. Hari pertama technical meeting dan tandingnya di hari Minggu. Alhamdulillah bangga dan bersyukur bisa menjadi juara,” katanya saat ditemui di Kantor Humas UNTAG Surabaya pada Selasa, (5/11). Sebelumnya Dimas meraih medali perunggu di kejuaran sejenis tingkat internasional pada tahun 2018.

Ketertarikan Dimas pada Karate Kyokushin sejak tiga tahun lalu, saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Uniknya, dia mengenal olahraga ini dengan tidak sengaja, “Tiba-tiba Mama menyuruh saya untuk latihan. Latihan apa? Karate katanya, saya kaget. Eh ternyata sudah didaftarkan ke perguruan. Pertamanya, tidak suka, ini apa sih? Karena awalnya saya ikut baseball. Lama-lama suka karena menantang.” Dia mengaku berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa pada dirinya, “Terima kasih kepada orang tua karena tanpa mereka tentu saya tidak akan pernah ikut karate. Terima kasih kepada para pelatih saya Pak Kasno, Pak Heri, Pak Hari dan Pak Kohar tanpa pelatih maka tidak akan ada yang melatih saya hingga seperti sekarang.”

Saat ini Dimas rutin berlatih Karate Kyokushin bersama 40 atlet lainnya pasca bergabung dengan Perguruan Melion Kenbukai, Surabaya. Adapun latihan dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis. Dimas yang menjadi mahasiswa UNTAG Surabaya  melalui jalur prestasi internasional ini menuturkan, rasa bosan dan jenuh menjadi tantangan selama latihan, “Metode latihan Karate Kyokushin kan itu-itu saja dan tidak ada yang lain. Jadi terkadang ada rasa bosan dan jenuh harus mengulang.”

Saat ditanya tentang resiko menjadi atlet Karate Kyokushin, dia menjawab hampir semua anggota badan rawan terkena. “Saya pernah terkena di tulang kering kering dan ankle. Untuk proses penyembuhannya sekitar dua minggu,” tuturnya. Sebagai mahasiswa, Dimas selalu berusaha membagi waktu antara kuliah dan latihan, “Saya coba bagi waktu dengan benar, untungnya jam kuliah kan tidak sampai malam,. Karena butuh fisik prima untuk latihan, jadi tidak sekedar latihan. Kuliah juga tidak boleh dilupakan.” Ke depan, Dimas akan kembali bertanding, “Harapan saya bisa mempertahankan juara 1 ini. Apalagi ada rencana untuk dibuka UKM Karate Kyokushin. Semoga bisa menyumbang prestasi membanggakan bagi UNTAG Surabaya.” (um)

Login dengan Username dan password Siakad Anda