Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

Dies Natalis ke-34, Prodi Arsitektur Raih Akreditasi A

Capaian akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) menjadi kado terindah bagi Dies Natalis ke-34 Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Prodi yang berdiri sejak 1986 ini secara resmi terakreditasi A berdasarkan SK No. 6115/SK/BAN-PT/Akred/S/IX/2020 yang ditandatangani oleh Direktur Dewan Eksekutif BAN PT, Prof. T. Basarudin, tertanggal 20 September 2020.

Dies Natalis ke-34 Prodi Arsitektur digelar secara virtual dengan serangkaian Webinar  pada Senin, (12/10). Dalam sambutannya Ketua Program Studi. Arsitektur Untag Surabaya-Muhammad Faisal, ST., MT. mengatakan, “Semoga akreditasi A ini bias menjadi pembuka peluang dan kesempatan baru yang lebih baik dan semakin banyak memberikan manfaat untuk masyarakat luas.” Dia menambahkan, “Adapun pelaksanaan webinar ini sejalan dengan upaya kami dalam mengevaluasi visi misi prodi kami. Terkait dengan itu, implementasinya pada kurikulum dan beberapa mata kuliah.

Tema ‘Revisiting Urban Resilience and the New Urban Agenda’ diusung dalam webinar yang juga bertepatan dengan Hari Habitat Dunia ini. Dengan moderator  Dr. Ir. RA. Retno Hastijanti, MT., pembicara adalah Ir. Kemal Taruc, MBA., M.Sc. Pria yang merupakan Senior Advisor UN-HABITAT Uni Office Untag Surabaya ini memaparkan, “COVID-19 menjadi alarm yang membangunkan kita. Melalui pandemi orang jadi berpikir definisi baru dari normal, kita juga berpikir bagaimana urban design ke depan. Kalau dulu prinsipnya safer and cleaner sekarang lebih ke healthier karena nyambung dengan kesehatan dan lingkungan.”

Turut hadir secara virtual, Prof. Dr. Ir. Johan Silas yang menyampaikan materi terkait ‘Menuju Rembug Kampung Nusantara’. Menurutnya kota di Indonesia masih bersifat dualistic, “Artinya masih ada dual system, yaitu kota yang modern (formal) dan yang dibangun oleh warga sendiri (kampung)” Meski pernah berkonotasi negatif, kata Prof. Johan, sekarang kata kampung sudah dipakai secara luas oleh banyak kalangan. “Apalagi dengan wadah Rembug Kampung Nusantara, diharapkan terbangun hubungan baik dengan pemerintah, sehingga menjadi kekuatan bangsa dalam menjaga kestabilan negara,” katanya.

Pada kesempatan yang sama  Pengurus Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Jawa Timur-Ar. Fafan Tri Afandi, IAI juga turut tampil sebagai pemateri. Dia menuturkan bahwa arsitek di Indonesia masih kurang dan dibutuhkan 250 ribu arsitek baru karena atmosfer masih belum matang seperti di luar negeri. “Seorang arsitek tidak boleh hanya berkutat pada proyek, tapi harus kebih dari itu. Dalam profesi ini kita harus memberi sesuatu yang lebih tinggi pada lingkungan sekitar. Misalnya terkait estetika, tidak hanya dia yang tahu maknanya, tapi harus berdampak,” tutupnya. (um/ze)

Login dengan Username dan password Siakad Anda