Developed Direktorat Sistem Informasi

Hubungi Kami di 031-5931800

Detail Berita

DIE Selenggarakan Webinar Internasional Global Economic Challenges COVID-19 & New Normal

Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya menyelenggarakan Webinar Internasional bertajuk “Global Economic Challenges COVID-19 & New Normal”, Jumat (17/7). Webinar kali ini bekerjasama dengan Universiti Teknologi MARA, Malaysia dengan 6 narasumber: Dr. H. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA (Dekan FEB Untag Surabaya), Prof. Dr. drg. Hj. Ida Aju Brahmasari, Dipl.DHE., MPA (Ketua ISWI Jawa Timur dan Guru Besar FEB Untag Surabaya), Prof. Dr. H. Ujianto, MS., (Guru Besar FEB Untag Surabaya), Prof. Dr. Hj. Tri Ratnawati, M.S., Ak., CA., CPA (Kaprodi DIE FEB Untag Surabaya), Prof. Dr. Amiartuti Kusumaningtyas, SH., MM (Guru Besar FEB Untag Surabaya) dan Prof. Dr. Saadiah (Guru Besar UiTM).

Narasumber pertama dengan materi “Techno Education Challenges COVID-19 and New Normal”, Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., menyebutkan bahwa pendidikan tidak mungkin terhenti meski adanya pandemi. Mengutip Henri Bergson, Dr. Slamet menjelaskan agar mampu sukses dibutuhkan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. “Nyatanya permasalahan akan ada apabila kita tidak terlibat dalam proses penyelesaiannya, yakni dengan dipelajari,” paparnya. Dr. Slamet pun menekankan agar pengajar harus melakukan perubahan dalam metode mengajar hingga mampu melakukan proses transfer ilmu dengan cara terbaik.

Berkesinambungan dengan pemateri pertama, Prof. Dr. drg. Hj. Ida Aju Brahmasari, Dipl.DHE., MPA membahas perubahan budaya perusahaan, “adanya pandemi jelas membawa perubahan pada budaya ditempat kerja secara tiba-tiba,” tuturnya. Ia menyebutkan 5 nilai yang bisa digunakan agar sebuah organisasi maupun perusahaan bisa berkembang lebih cepat meski dalam kondisi pandemi, yakni inovasi, transparansi, kreatifitas, keberagaman dan kolaborasi. “Jadi, elemen terpenting adalah memastikan sustainability perusahaan dimana bisnis harus tetap berjalan sehingga elemen kunci dari budaya kerja juga harus diadaptasikan,” pungkasnya.

Mengupas kesenjangan ekonomi global, Prof. Dr. Saadiah menjelaskan adanya pandemi saat ini cukup mengekspos beberapa permasalahan global, misalnya permasalahan kesenjangan ekonomi yang sebenarnya sudah ada sebelumnya namun semakin nampak. Kesenjangan ekonomi terlihat di berbagai negara, salah satunya Afrika Selatan memiliki koefisien gini paling besar dengan 63%. Sementara Indonesia memiliki koefisien gini sebesar 36,8%. “Dalam konteks pandemi, kesenjangan ekonomi terlihat pada masyarakat dengan pendapatan rendah, memiliki resiko lebih tinggi terdampak COVID-19,” terangnya. Menangani hal ini, Prof. Saadiah mengemukakan gagasan keadilan ekonomi sosial atau ekonomi humanistik dimana lebih fokus pada pengembangan SDM dan menggunakan beberapa prinsip seperti perubahan kebijakan serta dukungan dari pemerintah dan pendekatan berbasis hasil menggunakan solusi inovatif yang dibantu dengan teknologi.

Dalam materinya, “Clean and Green SME’s in COVID-19 and New Normal”, Prof. Dr. H. Ujianto, MS., menerangkan butuhnya reorientasi strategi dari inward looking policy menjadi outward looking policy. Maksudnya, sejauh ini Indonesia lebih melakukan kebijakan ekonomi pada Small to Medium-sized Enterprises (SME) dengan melakukan industrialisasi barang-barang impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sedangkan dalam outword looking policy yaitu mengusahakan produksi dalam negeri agar dapat menjadi komoditi yang bersaing di pasar internasional.

Sementara dalam pembahasan Kondisi Ekonomi Makro, Prof. Dr. Amiartuti Kusumaningtyas, SH., MM memaparkan setidaknya ada 3 tahapan Indonesia dalam masa pandemi: sebelum, sedang dan setelah. Dijelaskan oleh Prof. Ami, sebelum adanya pandemi COVID-19, Indonesia belum memiliki keterbukaan ekonomi. Hal ini menyebabkan adanya sentimen perdagangan internasional khususnya yang berkaitan dengan kebijakan impor. Dalam hal ini Prof. Ami menyarankan upaya yang bisa dilakukan, seperti memprioritaskan sektor UMKM, memberikan bantuan pada masyarakat kelas bawah hingga melakukan penggalangan dana secara swadaya. “Pemerintah harus meningkatkan daya beli masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tidak terjun bebas,” pungkasnya.

Narasumber terakhir, Prof. Dr. Hj. Tri Ratnawati, M.S., Ak., CA., CPA menjelaskan kondisi keuangan dan moneter di Indonesia dengan negara mitra. Sebelum adanya pandemi, dibandingkan dengan 10 negara mitra, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang paling rendah. “Sedang disana lebih terdampak COVID-19, akhrinya ekspor menurun dan berdampak pada neraca perdagangan Indonesia,” jelas Prof. Tri. Menghadapi pandemi, Prof. Tri menyarankan beberapa strategi keuangan yang harus dilakukan, misalnya pasar uang menurunkan tingkat suku bunga bank. “Pengusaha harus menurunkan biaya produksi, karenanya diharapkan pemerintah tidak meningkatkan tarif pajak. Selanjutnya harga barang diharapkan turun dan meningktakan daya beli masyarakat.” (ua/rz)

Login dengan Username dan password Siakad Anda