logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Bahas Pendidikan Inklusif, Mahasiswa Prodi Administrasi Negara Raih Juara III Karya Tulis Ilmiah

Tiga Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya ini berhasil meraih juara III Best Paper dalam ajang Lication Fair 2.0 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) Administrasi Negara Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung. Prestasi membanggakan ini datang dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Negara Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yakni Nabilla Larasati (semester 8), Eureka Ratna Nirmala (semester 8), dan Catur Ajeng Kartika Ria (semester 4).

Kompetisi Karya Tulis Ilmiah ini diselenggarakan pada 4 Maret 2022 secara daring dengan tujuan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur yang berkompeten dalam optimalisasi era revolusi industri 4.0. Ungkapan rasa syukur disampaikan oleh Nabilla. “Alhamdulillah saat diumumkan bahwa tim kami mendapat juara III rasanya campur aduk sekali sampai nangis terharu. Di awal nggak expect kalau menang, bisa sampai lima besar saja Alhamdulillah, selebihnya kami hanya pasrah dan Bismillah saja,” ujar alumni SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo ini.

Terdapat tiga sub tema yang dapat dipilih oleh masing-masing kelompok; Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), Pelayanan Publik, dan Pendidikan. Nabila dan tim sepakat untuk mengambil sub tema pendidikan. “Kami mengambil pendidikan dari sudut pandang berbeda yaitu pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (pendidikan inklusif) di Kabupaten Sidoarjo,” terangnya. Mereka menilai hal ini merupakan isu yang sangat krusial namun kurang menjadi perhatian publik khususnya pemerintah, sehingga ada ketimpangan sosial antara siswa normal dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Pemerintah dan pihak sekolah harus peka bahwa ABK ini perlu metode pembelajaran dan tenaga pendidik khusus. Ketika ABK dijadikan satu kelas dengan siswa normal maka akan rentan bullying,” paparnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon. Namun di sisi lain, Nabila dan tim menyadari dengan dijadikan satu kelas akan memacu ABK untuk dapat bersosialisasi, sehingga mereka tidak takut dan malu dengan kekurangannya.

Lebih lanjut lagi, menurutnya dalam prodi Administrasi Negara terdapat banyak isu yang dapat dibahas dan dituangkan melalui tulisan, dalam hal ini dapat menyuarakan apa yang mengganjal dari sebuah isu. “Melalui tulisan kita bisa menuangkan isi pikiran tanpa rasa takut, tetapi tetap berlandaskan teori dan bidang keilmuan yang kita miliki,” terang anak pertama dari dua bersaudara.

Dalam mempersiapkan kompetisi tersebut, Nabilla mengaku ada tantangan tersendiri dalam mencari dan menganalisa data, terlebih mereka hanya memiliki waktu 5-7 hari untuk mempersiapkan karya tulis ilmiahnya. “Data sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif di kabupaten Sidoarjo sulit untuk dijangkau, dari Dinas Pendidikan juga kurang transparansi. Akhirnya kami mendapat data dari kepala sekolah SD Muhammadiyah 1 Taman,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai rencana kedepan, Nabilla dan tim dibantu dengan prodi ingin membentuk sebuah tim penelitian khusus Administrasi Negara yang akan mengangkat isu-isu krusial dan kontroversi lainnya. “Nanti mentornya bisa dari dosen sendiri, yang terpenting jiwa menulis tidak berhenti di saya dan Eureka saja, tapi bisa diteruskan oleh Ajeng dan adik tingkat lainnya. Jadi mereka di kampus bukan hanya belajar saja, kuliah-pulang, ikut organisasi,” ujarnya. Selain itu, Nabilla juga memberi pandangan bahwa menulis itu menyenangkan, mengikuti proses dalam penelitiannya, terjun langsung ke lapangan, menghadapi tantangan yang ada di lapangan. “Itu membuat pemikiran kita semakin kritis.”

Dukungan dan apresiasi turut diberikan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA), Kaprodi Administrasi Negara – Anggraeny Puspaningtyas, S.AP., M.AP dan Dosen Pembimbing – Yusuf Hariyoko, S.AP., M.AP. yang semakin membuat Nabilla dan tim semangat mengikuti kompetisi tersebut. “Kami ingin berterima kasih kepada BKA yang selalu memberikan apresiasi dan fasilitas kepada kami, kepada bu Anggra yang selalu mendukung di setiap event yang kami ikuti, dan kepada pak Yusuf yang bersedia meluangkan waktu untuk revisi,” ucapnya.

Kompetisi ini merupakan penutup bagi Nabilla dan Eureka sebelum keduanya lulus dari Untag Surabaya dan mereka bersyukur bisa mendapatkan juara. “Kami memiliki closing statement; Pergi ke kota Batik, membeli aneka warna. Pendidikan inklusif yang baik, kunci generasi emas Indonesia,” tutupnya. (oy/rz)



PDF WORD PPT TXT