logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Andik Matulessy Jadi Peserta Terbaik dalam ToT Lemhannas RI

Kabar membanggakan datang langsung dari Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainer/ToT), (24/6) yang digelar oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI). Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, yakni Dr. Andik Matulessy, M.Si, Psikolog terpilih sebagai salah satu peserta terbaik dalam kegiatan tersebut. Saat diwawancarai di Kantor Pusat Layanan Psikologi dirinya mengatakan, “Sangat berkesan, kami memang dilatih untuk menjadi orang paham nilai kebangsaan, siap menjadi pelatih bagi dosen maupun mahasiswa. Banyak hal yang saya dapatkan dari situ.”

Dosen Fakultas Psikologi tersebut menuturkan, dirinya mendapat banyak pemaparan terkait empat pilar kebangsaan, “Kami diajarkan tidak hanya konsep tapi bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai yang memang tidak mudah kita pahami.” Disebutkan oleh Andik, “Misalnya nilai kerakyatan, nilai toleransi yang sebenarnya konseptual abstrak. Kami dilatih untuk mampu mengimplementasikan. Proses ini perlu dibagikan pada dosen maupun mahasiswa, apalagi kampus kebangsaan.” Menurutnya, nilai-nilai tersebut telah banyak dipelajari, “Tetapi bagaimana mengubah dan mengimplementasikan sesuai local wisdom dan nilai masyarakat Indonesia, itu belum banyak.”

Selama pelaksanaan ToT Lemhannas RI, 100 orang peserta dibagi ke dalam lima kelompok. “Saya ada di kelompok Bhinneka dan ditunjuk jadi ketua kelompok yang disebut gubernur,” tutur Andik. Dia menambahkan, “Di akhir, di antara lima ketua kelompok, dilakukan pemilihan Ketua Ikatan Alumni ToT Lemhannas RI Tahap 1. Dan saya terpilih sebagai ketua.” Sebagai ketua, dirinya berperan dalam mengkoordinasikan anggota angkatannya. “Kegiatan tidak berhenti disini ada proses kegiatan lain sebagai bentuk implementasi dari pelatihan yang diberikan,” kata Andik.

Di hari terakhir pelaksanaan ToT Lemhannas RI, peserta kembali dibagi menjadi 10 kelompok untuk menyajikan nilai kebangsaan dan implementasinya. Pada kesempatan tersebut, Andik mengusung tema ‘Implementasi Nilai Toleransi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Masional’. Dia menerangkan, “Dimulai dari intoleransi di bidang pendidikan, seperti kasus sekolah memaksa untuk jilbab dan ketua OSIS tidak boleh dari minoritas.” Kondisi intoleransi, sebut Andik, jika dibiarkan bisa berpotensi menjadi konflik, “Pendidikan ini penting karena pembelajaran awal tentang nilai kebangsaan dari sekolah atau kampus.”

Kepala Pusat Layanan Psikologi PLP Untag Surabaya ini menawarkan model pembelajaran yang meningkatkan toleransi dan keberagaman, “Misalnya memberi contoh positif dengan tidak memperbincangkan kejelekan etnis atau agama lain. Memperluas pendidikan karakter, harus ada political will berupa aturan yang jelas untuk menghadang intoleransi.” Dengan pemaparan yang apik tersebut, Andik diganjar sebagai penyaji terbaik. “Setiap kelompok dipilih dua terbaik, dosen dan guru. Saya penyaji terbaik di kategori dosen.”

Sebagai dosen Kampus Merah Putih, dirinya berharap, “Untag Surabaya tidak sekedar kampus nasionalis tetapi juga bisa memunculkan agent of change untuk memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Karena nilai kebangsaan tidak bisa hanya pelajari dalam konteks knowledge tapi harus diimplementasikan.” Andik pun berharap semakin banyak dosen Untag Surabaya yang lolos dalam ToT Lemhannas RI. “Negara ini akan ada perubahan kalau ada yang berani menyuarakan nilai kebangsaan. Itu dimulai dari pelatihan yang dilakkan oleh Lemhannas RI,” tutupnya. (um)

 



PDF WORD PPT TXT