logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Ajang Kompetisi Tingkat Nasional, Mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya Raih Juara

Kabar membanggakan kembali datang dari Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, yakni Jennifer Laura Bachsin, Sinta Lorensia, dan Nisfu Ayu Atika. Tim yang diberi nama Abdul Muis ini meraih prestasi gemilang sebagai Juara Harapan 1 pada kompetisi Debat Hukum Nasional Unissula Law Fair II. Kompetisi besutan Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang ini dilaksanakan mulai Kamis-Selasa, (19-31/5) yang diikuti oleh 14 tim dari berbagai kota di Indonesia. Mengusung tema ‘Rekonstruksi Politik Hukum Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2024 Untuk Mewujudkan Electoral Integrity’, Unissula Law Fair II berkomitmen mencetak lulusan yang cakap, visioner dan adaptif menjawab tantangan zaman.

Saat diwawancarai melalui telepon, Sinta yang merupakan Ketua Tim mengaku tidak menyangka sekaligus bangga akan kemampuan tim ini. “Tidak menyangka, kami bertiga sampai histeris karena senang sekali. Dengan pengalaman yang belum begitu banyak dan bermodal berani, kami bisa membuktikan Fakultas Hukum Untag Surabaya mampu bersaing hebat,” tutur mahasiswa semester 4 ini.

Sinta menceritakan untuk meraih Juara Harapan 1, ada berbagai tahapan yang harus dilalui dengan berbagai topik debat. “Untuk bisa meraih Juara, kami melawati mosi yang telah ditentukan oleh panitia, diantaranya; 1) Mosi Penyisihan, posisi kontra terkait Penghapusan Calon Independen dalam Pemilihan Umum Daerah. 2) Mosi Perempatfinal, posisi kontra terkait Anggota TNI Boleh Berasal dari Keturunan PKI. 3) Mosi Semifinal, posisi kontra terkait Pemberlakuan Kembali Undang-Undang Pemberantasan Kegiatan Subversi. 4) Mosi Perebutan Juara 3, posisi kontra terkait Penghapusan Fraksi Partai Politik dari Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama saat di wawancara, Jenni dan timnya mengaku telah melakukan strategi di mosi penyisihan. Tim Abdul Muis mempelajari video-video debat terkait topik tersebut guna menyisihkan 6 tim lainnya. “Sebelum dilakukan mosi penyisihan, kami mengumpulkan dan mempelajari topik yang akan diusung. Di mosi perempat final kami melawan UMM, sedangkan di mosi semifinal melawan UNDIP Semarang, dan di mosi perebutan juara 3 melawan IAIN Parepare,” ujar Jenni.

Sementara itu, Nifsu menjelaskan teknis dalam pembagian peran. Satu tim dibagi menjadi tiga pembicara, Nisfu sebagai pembicara satu, sedangkan Sinta sebagai pembicara dua, dan Jenni berperan sebagai pembicara tiga. “Saya bertugas menjelaskan latar belakang dan duduk permasalahan dari mosi tersebut. Sinta bertugas menyebutkan data autentik beserta standing legalnya atau pasal yang menguatkan. Jenni harus menunjukkan bukti dan tambahan data faktual atau disebut benang merah dari kedua pembicara, bisa dikatakan sebagai gong-nya, sehingga tim yang mendapat posisi pro tidak bisa membantah fakta tersebut,” terang Nisfu.

Ketika ditanya persiapan apa yang dilakukan untuk mengikuti kompetisi, ketiganya kompak menjawab hanya dengan satu bulan menyamakan pikiran, mempelajari topik dan berani. “Persiapan hanya satu bulan, kami melakukan bonding atau penyatuan pikiran. Kami lakukan riset mengenai topik tersebut, lalu dipahami bersama-sama. Misalkan nisfu mencari latar belakang secara netral, Sinta mencari data analitik, Undang-Undang, Tap MPR, atau segala sesuatu yang bersifat pembukuan. Baru setelah itu kami rundingkan lagi,” papar Jenni. Selain itu, mereka juga dapati tantangan selama kompetisi berlangsung. “Delegasi dari Universitas lain sudah ada mentornya, mereka tinggal mematangkan dan jalan saja. Sedangkan seluruh argumen dan pemikiran kami rumuskan sendiri, jadi sempat ngeblank, lupa dengan mosinya, dan bingung apa yang mau di sampaikan,” timpal Sinta.

Dengan tantangan tersebut, mereka berharap untuk kedepannya dapat didampingi oleh mentor yang menjadi pondasi mereka. “Jika rutin latihan dan brainstorming dengan mentor, kami yakin FH Untag Surabaya tidak hanya mampu bersaing di kancah nasional, tetapi juga internasional,” harap Nisfu. Jenni turut menimpali pesan untuk mahasiswa. Debat itu seperti nyawanya mahasiswa FH, hukum yang terus bergerak melatih kami untuk kritis. Jika ada kesempatan baiknya dicoba, but If it’s not fun, don’t do it,(oy/rz)



PDF WORD PPT TXT