logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

10 Kota Ikuti Kompetisi Essay Yang Diselenggarakan FIB Untag Surabaya

Program Studi (Prodi) Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar National Undergraduate Essay Competition 2022 bagi mahasiswa aktif di seluruh penjuru Indonesia. Digelar secara online pada Minggu-Kamis, (29-2/6), kompetisi essay ini diikuti oleh 22 peserta dari berbagai prodi dan Universitas di Surabaya, Malang, Kediri, Batam, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Lampung, dan Tangerang. Kaprodi Sarjana Sastra Inggris – Dr. Pariyanto, M.Ed., mengatakan kompetisi ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa dalam menuangkan ide-ide kreatifnya. “Ide kreatif mereka yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh seorang dosen dapat dituangkan dalam bentuk essay berbahasa inggris,” ujarnya.

Terdapat tiga pilihan tema yang dapat dijadikan topik essay; Learning a language and literature in the 21st century, How language and literature graduates stay competitive in the era of industry 4.0, dan Possible solutions to the ineffectiveness of learning online in the Indonesian context. “Alasan pemilihan tema tersebut karena itulah permasalahan yang melekat di masing-masing mahasiswa saat ini, sehingga bagaimana mereka dapat menyoroti hal tersebut dan dituangkan dalam essay,” tegasnya saat diwawancarai.

Pariyanto, sapaan akrabnya, mengaku dalam proses review essay juga turut mengundang external reviewer agar penilaian dapat dilakukan secara fair. “Internal reviewernya saya sendiri, yang external yakni Dosen Sastra Inggris dari Yogyakarta,” terang Dosen Sastra Inggris ini.

Di kesempatan yang sama, Dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta – Simon Arsa Manggala mengatakan kompetisi essay ini merupakan hal yang penting. “Adanya kompetisi ini membuat peserta jadi punya wadah untuk aktualisasi dan mengekspresikan diri. Selain itu, bagi peserta yang belum menang ini bisa dijadikan ajang untuk latihan, penggemblengan, dan mengasah keterampilan menulisnya,” papar Simon saat diwawancarai melalui sambungan telepon. Dirinya juga berpesan kepada mahasiswa untuk lebih percaya diri dan terus mencoba mengikuti kompetisi yang sesuai dengan minat bakatnya. “Carilah wadah yang dapat digunakan untuk belajar. Cari minat dan bakatnya, ikuti, jangan takut gagal, terus tekuni, nanti akan ada jalan terbuka. jika sudah berani mengetuk pintu pasti akan dibukakan,” paparnya.

Pariyanto menambahkan, kompetisi ini menunjukkan bahwa sebetulnya ada banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan menulis. “Apabila tidak diadakan kegiatan seperti ini kami (dosen) tidak tahu, jadi diberikan umpan atau trigger sehingga mereka terdorong untuk mengembangkan kemampuannya,” ujar Pariyanto. Pariyanto juga berharap kompetisi essay selanjutnya dapat menjangkau lebih luas sampai ke Asia.

Pengumuman pemenang dilaksanakan pada Sabtu, (4/6) melalui website https://inggris.untag-sby.ac.id/ dan kanal virtual meeting yang dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) – Mateus Rudi Supsiadji, S.S., M.Pd. serta ketua panitia – Muizzu Nurhadi, S.S., M.Hum. Tiga orang pemenang tersebut diantaranya; 1) Jacqueline Pattikawa dari Universitas Bunda Mulia Jakarta, 2) Abytha Ayu Erlanda Tanjung dari Untag Surabaya, 3) Anastasia Apsari Atisomya dari Universitas Dian Nuswantoro Semarang. “Kami nilai dari konsep idenya, cara menulisnya runtun atau tidak, original atau tidak. Saya juga periksa di Turnitin, paling besar 2%, sisanya 0%. Artinya itu ide mereka sendiri yang kemudian dikembangkan,” papar Pariyanto.

Essay berjudul 'Create Interesting Classes for Online Learning' sukses membawa Jacqueline meraih juara I dalam kompetisi ini. “Saya merasa senang karena tidak pernah terbayangkan akan mendapat kesempatan menjadi juara I. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada FIB Untag Surabaya karena telah menyelenggarakan lomba ini. Saya juga sangat mengapresiasi setiap tema yang ada karena membuat saya harus berpikir kritis,” tegasnya. 

Essay yang diselesaikan dalam waktu kurang dari satu hari ini mengulas jenis dan tipe belajar mayoritas murid di Indonesia. “Menurut saya hal ini sangat penting karena dengan mengidentifikasi dan mengenal hal tersebut akan ditemukan solusi yang dapat membantu mengubah kondisi dan situasi sekarang ini," jelasnya. (oy/rz)



PDF WORD PPT TXT