Selasa, 19 - 06 - 2018
05:53:26
PERAN GURU BK SETELAH 13 MEI 2018

Diposting oleh : Admin | Kamis, 07 Juni 2018 - 11:12:39 WIB | Dibaca: 48 kali

Tragedi ledakan bom yang terjadi pada tiga Gereja di Surabaya lalu memberikan dampak traumatik bagi masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya berupaya ikut memberikan kontribusi dalam membantu penanganan korban pasca pengeboman yang terjadi pada 13 Mei 2018. Sebelumnya, melalui Pusat Layanan Psikologi (PLP), Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya turut membantu dalam memberikan layanan konseling bagi korban.

Kali ini, UNTAG Surabaya menggelar Seminar bertajuk “Peran Guru BK Setelah 13 Mei 2018”, Rabu (30/5). Bertempat di Meetingroom, Gedung Graha Wiyata lt. 1 UNTAG Surabaya, seminar tersebut dihadiri Guru BK (Bimbingan Konseling) SMA/SMK/MA/Sederajat Surabaya dan Sidoarjo.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber yaitu: Dr. IGAA. Noviekayati, M.Psi., Psikolog., dan Dr. RR. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog. Keduanya merupakan dosen Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya.

Dalam materinya,“Sekolahku Menjadi Bagian dari Solusi Bangsa Yang Bermartabat”, Amanda menjelaskan definisi radikalisme beserta contoh dan dampak radikalisme serta menyebutkan cara mencegah radikalisme. “Berperan aktif dalam melaporkan gejala sekecil apapun yang mengarah pada radikalisme serta cerdas menyaring informasi juga merupakan cara dalam mencegah radikalisme,” Lanjut Amanda.

Sementara itu, Dr. IGAA. Noviekayati, M.Psi, Psikolog menjelaskan tentang penanganan trauma. Terdapat beberapa klasifikasi sebelum kemudian seseorang disebut mengalami trauma. “Disebut shock apabila efek dari kejadian tersebut hanya dialami selama seminggu saja. Kemudian apabila setelah 3 minggu pasca kejadian masih mengingat tragedi tersebut, maka bisa dikatakan orang tersebut mengalami trauma. Namun apabila lebih dari 3 bulan setelah peristiwa masih menunjukkan indikasi trauma, hal tersebut pertanda Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD),” terangnya.

Lebih lanjut, Novie menjelaskan bahwa, tragedi pengeboman kemarin bukan hanya mengakibatkan trauma pada masyarakat yang secara langsung mengetahui kejadian, melainkan juga berakibat secara tidak langsung pada orang-orang sekitar yang memiliki ciri-ciri yang sama. “Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memulihkan perasaan trauma; jauhkan dari situasi agar bisa tenang, mengajak diskusi, memberi nasehat serta diajak berpikir positif,” jelasnya. (Ua)

A A A
Menu Lainnya