Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Budi Witjaksana, ST, MT & Beberapa Dosen FT Sipil Untag Surabaya Membuat Pengolah Limbah Komunal Off Site System


Rabu, 03 Juni 2015 - 09:11:09 WIB

Diposting oleh : Eddy Wahyudi
Kategori: Hasil Karya - Dibaca: 129 kali


Budi Witjaksana, ST.,MT dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Untag Surabaya bersama dengan timnya, yaitu Ir. Hari Moertiono, M.Sc dan Ir. Hudhiyantoro, M.Sc, membuat pengolah limbah komunal dengan mekanisme off site system, di RT 02, RT 03 wilayah RW 02 Kelurahan Menur Pumpungan Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat.

Di kota Surabaya saat ini belum terdapat jaringan pembuangan limbah. Sebagian besar perumahan di Surabaya mengandalkan sanitasi setempat (on-site). Sistem tersebut meliputi tangki septik, sumur resapan, serta jamban. Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Perencanaan Kota Surabaya  mengenai program dan kegiatan sub sektor air limbah tahun 2012-2016, jamban di wilayah kota Surabaya, dapat diketahui bahwa dari 818.877 KK yang diperiksa sebanyak 300.361 KK yang memiliki jamban keluarga adalah sebesar 96,1 %.

Permasalahan yang dihadapi masyarakat RT 02 dan RT 03, wilayah RW 02 Kelurahan Menur Pumpungan Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya yang berpenduduk padat. “ Salah satunya adalah sarana dan prasarana sanitasi yang disebabkan oleh sempitnya  lahan sehingga tidak bisa diadakannya sarana tersebut secara memadai terutama resapan dan penampungan tinja,” kata Budi Witjaksana selaku ketua tim.

Untuk pengolahan limbah seperti di atas,  pada saat ini sangat diperlukan bangunan penampungan atau pengolah limbah komunal dengan mekanisme off site system (pengolah limbah secara bersama). “ Melihat permasalahan di atas maka program Iptek Bagi Masyarakat (IbM) ini dengan obyek pembuatan bangunan pengolah limbah komunal dengan mekanisme off site system,” lanjut Budi.

Pengolahan limbah terpusat (off site system), tambah Budi, mempunyai keunggulan dibandingkan pengolahan limbah setempat. Jika pengolahan limbah setempat cenderung tidak dikelola dengan baik karena lebih menjadi tanggung jawab secara individu, sehingga tidak ada jaminan terhadap kualitas effluent air limbahnya. Sedangkan pengolahan  air limbah terpusat membutuhkan pengolahan khusus dan terencana mulai dari kapasitas kelembagaan, partisipasi masyarakat penerima manfaat serta upaya pemeliharaannya. “ Efektifitas pengelolaan terpusat yang terdesentralisasi sangat dipengaruhi oleh sistem operasional dan perawatan instalasi pengolah limbah,” imbuhnya.

Penyediaan prasarana dan sarana air limbah pemukiman bagi masyarakat di lingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi adalah mempergunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang terbukti dapat mengurangi atau mereduksi air limbah dari pemukiman sebelum masuk ke badan air.

Kegiatan IbM ini diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas lingkungan hidup. “ Secara bertahap sanitasi pengolahan limbah domestik tersebut akan terus ditingkatkan menjadi sistem komunal yang terintegrasi dengan sistem sanitasi pengolahan limbah domestik perkotaan,” tutup Budi.



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :