Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mengelolah Kerajinan Sampah Kering Berbasis Lingkungan Laku di Luar Negeri


Selasa, 17 Februari 2015 - 10:14:04 WIB

Diposting oleh : Eddy Wahyudi
Kategori: Hasil Karya - Dibaca: 295 kali


Dra. Noorsanti Sumarah, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( FISIP ) UNTAG Surabaya membuat kerajinan dengan cara mendaur ulang sampah kering. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah usaha masyarakat berbasis lingkungan, selain itu memberikan nilai ekonomis pada barang.  Hasil dari kerajinan tersebut sudah di jual ke dalam dan luar negeri seperti Australia, Jepang, dan Belgia.

Noorsanti yang juga bertugas sebagai fasilitator lingkungan di Pemerintah Kota ( Pemko t) surabaya tersebut mengatakan bahwa dirinya bertugas mensosialisasikan cara mengelola lingkungan sejak 2006. Kemudian dengan berkembangnya waktu, di dalam program Pemkot Surabaya tersebut ada program mendaur ulang. Karena dia suka membuat kerajinan akhirnya jadilah karajinan yang berbahan dasar dari sampah kering.

“ Banyak kerajinan yang berbahan dasar dari sampah kering seperti dari botol plastik, kresek, perca, kertas, koran, dll. Dari satu macam bahan itu bisa dibuat bermacam-macam variasi, sehingga jika ditotal ada puluhan hasil variasi dari pengolahan sampah kering tersebut. Untuk kegiatan lanjutannya saya membuat semacam Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) , tetapi bukan profit oriented murni melainkan kegiatan masyarakat berbasis lingkungan. Artinya mereka yang mempunyai talenta saya ajari untuk membuat kerajinan dan dari kerajinan yang mereka buat akan menghasilkan pendapatan atau income, ada nilai ekonomis bagi mereka, dan nilai tambahnya lingkungan menjadi bersih,” kata Noorsanti.

“ Masyarakat yang aktif cukup banyak dan antusias sekali untuk membuat kerajinan dari bahan dasar sampah, karena memang ketika saya mensosialisasikan kepada mereka untuk menjadikan lingkungan itu bersih dan tentunya mendapatkan pahala. Saya menghimbaukan kepada masyarakat saat sosialisasi jangan menghabiskan waktu dengan sia-sia seperti gibah atau rasan-rasan sana-sini, atau membuang uang dengan percuma yaitu nonton TV tetapi orangya tidur, kalau kegiatan ini TV-nya mati tetapi bisa menghasilan pendapatan,” tambahnya.

Noorsanti juga mengatakan bahwa dia sudah banyak melakukan sosialisasi ke berbagai kota tentang kerajinan berbahan dasar dari sampah kering tersebut.

“ Saya memberikan pelatihan tentang kerajinan ini sudah ke banyak kota, sosialisasi saya lakukan ke komuinitas tertentu, melalui radio, selain itu online juga untuk promosi. Untuk menampung hasil dari kerajinan masyarakat tersebut kita kerjasama dengan dinas-dinas terkait seperti LH, DKP, Pemkot, dan dikutkan pameran-pameran. Hasil dari kerajinan tersebut kita jual dalam dan luar negeri. Untuk dalam negerinya sudah ke Sulawesi, Palu, Sumatera, Tangerang, Manado, Lombok, dan Bekasi. Ekspornya  pernah ke Australia, jepang, dan belgia,” kata Noorsanti.

Noorsanti berharap masyarakat secara luas mengerti bagaimana mengelola lingkungan, menghargai kerajinan dari sampah sehingga banyak hasil yang didapat yaitu barang bernilai ekonomis sehingga memberikan penghasilan kepada masyarakat dan lingkungan terjaga.

“ Saya senang berkegiatan seperti ini karena bisa membantu orang lain, ya paling tidak saya sudah bisa berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan, dan yang membuat senang lagi adalah saya bisa menyalurkan hobi,” tutup Noorsanti. 



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :