English  Indonesian

Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

Psikologi UNTAG Surabaya adakan Workshop Pemeriksaan Psikologi Forensik pada Fraud, Kenali Dulu Jenisnya


Selasa, 30 Oktober 2018 - 08:46:09 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 281 kali


Pemeriksaan tersangka Fraud perlu dilakukan untuk mengkaji perilaku Fraud dan prevensinya melalui pendekatan psikologi forensik. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Asosiasi Psikologi Forensik-Dra. Reni Kusumowardhani, M.Si., Psikolog, dalam Workshop Pemeriksaan Psikologi Forensik Tersangka Fraud di Meeting Room 1 Gedung Graha Wiyata lt. 1. Workshop dilaksanakan selama 2 hari berturut-turut, yaitu: Sabtu-Minggu 27-28 Oktober 2018. Di hadapan peserta yang merupakan mahasiswa Magister Psikologi (MAPSI) dan Magister Psikologi Profesi (MAPRO) Reni mendefinisikan, secara sederhana Fraud berarti tindak kecurangan. Dia menuturkan, “Fraud memang berawal dari hal kecil, ketika menjadi besar maka disebut perilaku ilegal (unethical act)”, tutur Reni.

Dijelaskan oleh Reni bahwa pengukuran Fraud dapat dilakukan dengan Assessment Center dan Profiling Fraud. Untuk melakukannya harus diketahui jenis Fraud, pelaku dan korban, serta resiko Fraud pada seseorang. Tiga jenis Fraud yang paling umum adalah korupsi, penyalahgunaan aset, dan perekayasaan data keuangan. Ketiganya perlu dipahami untuk menyesuaikan metode profiling yang akan digunakan. Maka untuk Fraud dalam rekrutmen karyawan harus dilakukan profiling. “Untuk klasifikasinya ada 2 jenis Fraud. Fraud Defensif yaitu orang dari kalangan ekonomi menengah yang mencuri kesempatan guna memenuhi kebutuhan dasar, masih ada itikad baik untuk mengembalikan. Sedangkan Fraud Ofensif dilakukan oleh orang dari kalangan ekonomi atas yang dipicu keserakahan dan mengeksploitasi kesempatan untuk menjamin kehidupan mewah,” jelas Reni.

Dilihat dari masa kerja, semakin tinggi masa kerja seseorang maka semakin tinggi resiko Fraud. Adapun rentang usia pelaku adalah 35-44 tahun dan mampu bekerja dalam tekanan tinggi. Menurut Psikolog RSUD Cilacap ini, seorang pelaku Fraud kerap merasa tidak bersalah. Mereka cenderung narsistik karena merasa punya kekuasaan sehingga sulit dijangkau oleh hukum. Pun cenderung cerdas dan memiliki kemampuan komunikasi efektif persuasif. Lalu, bagaimana jika hasil Assesment Center Integerity aman? Reni mengungkapkan, “70% Fraudster memiliki profil gabungan antara tekanan dengan arogansi atau keserakahan. Assesment sebagai prevensi menggunakan Psychological Fraud Risk Profiling dengan landasan berpikirnya adalah rasionalisasi, kemampuan, motif dan kesempatan. Aspek yang diukur adalah kognitif, afektif dan konatif”. Hal ini merupakan upaya mengetahui profil Fraudsters melalui pemeriksaan psikologis untuk memindai SDM terhadap resiko Fraud. Sehingga dapat membantu penyidik, jaksa, atau hakim terhadap resiko Fraud yang dilakukan tersangka. (um/aep)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :


umraniye escort
bodrum escort
sirinevler escort avcilar escort halkali escort sirinevler escort bakirkoy escort istanbul escort sirinevler escort atakoy escort beylikduzu escort istanbul escort beylikduzu escort
porno porno
izmir escort
erotik film izle
mobilepornxtube mobile18porn mobilefuckporn mobilexxxsexporn