English  Indonesian

Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

Psikologi Forensik, Periksa Psikologis Tersangka Terorisme


Selasa, 30 Oktober 2018 - 08:36:04 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 230 kali


Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mengadakan kuliah umum dengan tema Pemeriksaan Psikologi Forensik Tersangka Teroris. Kuliah umum tersebut dilaksanakn di Meeting Room Graha Wiyata lt.1 Untag Surabaya (26/10). Kuliah umum yang diikuti oleh mahasiswa Magister Psikologi (MAPSI) dan Magister Psikologi Profesi (MAPRO), juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Psikologi-Dr. Suroso, MS., Psikolog, sekaligus membuka kuliah umum tersebut. “Kegiatan seperti ini wajib diikuti karena menambah ilmu, semoga berlanjut di kemudian hari. Dari judulnya saja bisa kita tebak bahwa tugas psikologi forensik itu menarik, meskipun menakutkan,” kata Suroso dalam sambutannya. Dia mengatakan bahwa Psikologi Forensik telah dimasukkan ke dalam kurikulum MAPSI dan MAPRO, yang diharapkan bisa menjadi salah satu pilihan setelah menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya.

Dalam kuliah umum tersebut menghadirkan pemateri yang berasal dari Asosiasi Psikologi Forensik-Dra. Reni Kusumawardhani, M.Si., Psikolog yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Asosiasi Psikologi Forensik. Dijelaskan oleh Reni, pemeriksaan Psikologi Forensik harus diawali oleh observasi dengan berpegang pada 4 pilar psikologi forensik. Untuk mengindari terjadinya bias, maka hasil observasi harus ditelaah secara teoritis. “Untuk menelaah secara teoritis, psikolog harus membangun pemahaman tentang terorisme terlebih dahulu,” tegas Reni. Dia menjelaskan bahwa Psikologi Forensik berbeda dengan Psikologi Sosial. Hal ini mengingat Psikologi Sosial dikemas dengan Peraturan Perundangan yang ada. Sedangkan Psikologi Forensik berorientasi mikro yakni berpegang pada Psikologi dan makro yakni berpedoman pada Hukum.

Lebih lanjut Psikolog RSUD Cilacap ini menjelaskan bahwa pemeriksaan Psikologi Forensik pada tersangka terorisme maka yang harus dilakukan adalah wawancara radikalisme. Lalu dilanjutkan dengan proses penyidikan. “Dalam proses proses pemeriksaan ini kita harus membaca KUHAP agar kita tidak tergugat. Karenanya kita harus tahu kenapa psikologi bisa masuk ke ranah hukum,” terangnya. Dijelaskan oleh Reni terorisme termasuk kejahatan non konvensional. Yang harus dilihat adalah modus, sasaran, motif, operandi, pola kejahatan, pola korban, dan pola pelaku. Bukan agama, politik, atau hukum yang perlu diperiksa tetapi lebih kepada perilaku dan psikologis tersangka. Hal ini guna melihat dimana mereka berafiliasi dan terlibat. Meskipun konteks yang diperiksa hanya psikologi; konteks agama, politik, atau hukum pun tetap perlu dipelajari. (um/aep)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :


umraniye escort
bodrum escort
sirinevler escort avcilar escort halkali escort sirinevler escort bakirkoy escort istanbul escort sirinevler escort atakoy escort beylikduzu escort istanbul escort beylikduzu escort
porno porno
izmir escort
erotik film izle
mobilepornxtube mobile18porn mobilefuckporn mobilexxxsexporn