Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

FASHION REVOLUTION, GERAKAN MODE PEDULI NASIB PEKERJA


Jumat, 27 April 2018 - 11:21:51 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 418 kali


Fashion Revolution Day berlangsung setiap tahun pada 24 April. Fashion Revolution Day merupakan hari peringatan runtuhnya pabrik garmen Rana Plaza di Bangladesh, yang menewaskan sedikitnya 1130 orang dan lebih dari 2500 orang terluka.

Runtuhnya pabrik-pabrik garmen yang menewaskan ribuan orang tersebut seakan menjadi peringatan besar bagi industri fashion, hal ini diakibatkan oleh kerusakan gedung yang ada, namun pemilik gedung tetap memperkerjakan para buruh seperti biasa. Tragedi ini mencerminkan bahwa industri mode di dunia belum sepenuhnya memperhatikan etika dan keberlanjutan. Berlatarbelakang peristiwa tersebut, berdirilah Fashion Revolution, gerakan global di lebih dari 100 negara termasuk Indonesia. Gerakan tersebut menginisiasi sebuah perubahan terhadap cara produksi dan pembelian produk fashion.

Bertempat di kantor UN Habitat Gedung Graha Widya lantai 1 UNTAG Surabaya, Jesika Cravis dan Celia Meghan dari EQWIP-HUBs Canada menyampaikan materi dalam diskusi yang bertajuk “It’s Time for A Fashion Revolution”, Selasa (24/4). Acara tersebut dihadiri oleh mahasiswa UNTAG Surabaya dan juga volunteer dari EQWIP-HUBs Canada.

 “Gerakan global ini bertujuan agar dunia mode atau fashion bisa lebih transparan, berkelanjutan dan memiliki etika yang baik dilingkungan kerja,” terang Celia. Yang diutamakan dalam gerakan Fashion Revolution, lanjut Celia, adalah bagaimana keselamatan pekerja, lingkungan atau gedung yang baik. “Pekerjanya juga lebih banyak perempuan, yang sayangnya haknya kurang terpenuhi dengan baik,” lanjut Celia.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu memperbaiki keadaan tersebut. Salah satunya adalah mengetahui brand atau label baju, “dengan mengampanyekan #whomademyclothes, kita bisa mengetahui proses yang terjadi sejak produksi hingga sampai ke tangan konsumen. Siapa yang membuat baju kita dan apakah mereka memiliki kehidupan yang layak” jelas Jesika. “Mau tidak mau, dengan bertanya seperti itu, banyak brand atau pabrik yang akan lebih transparan dalam hal sistem mereka, pembuatan hingga sampai ke konsumen,” imbuh Jesika. Hal tersebut diharapkan membantu memastikan hak asasi manusia dari tiap pekerja sehingga eksploitasi buruh tidak lagi terjadi dalam dunia fashion. (ua)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :


Page generated in 1553055844.8 seconds.
umraniye escort
bodrum escort
sirinevler escort avcilar escort halkali escort sirinevler escort bakirkoy escort istanbul escort sirinevler escort atakoy escort beylikduzu escort istanbul escort beylikduzu escort
porno porno
izmir escort
erotik film izle
paykasa bozdurma
huluhub.com