Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

Mahasiswa UNTAG Surabaya Ciptakan Game untuk penyandang Disleksia


Kamis, 27 Juli 2017 - 10:14:22 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 465 kali


Disleksia merupakan kondisi di mana seorang anak mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Disleksia pada umumnya terjadi pada anak-anak, dan penderitanya dapat diketahui dari ketidakmampuannya  dalam menyusun atau membaca kalimat dengan terbolak-balik.

 

Namun bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi disleksia tak perlu khawatir, karena saat ini banyak metode terapi yang ditawarkan untuk penderita disleksia. Melihat kondisi tersebut, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dimas Bagus G.P membuat aplikasi permainan (game) untuk penderita disleksia.

 

Selama pembuatan aplikasi tersebut, Dimas banyak berkonsultasi dengan psikologi Dr. IGAA Noviekayati, M.Si., Psikolog, dan dosen pembimbingnya dalam Tugas Akhirnya yakni M. Firdaus S.Kom., M.Kom. Menurut Dimas game yang ia ciptakan dapat membantu terapi anak disleksia agar dapat membaca sebuah kalimat dengan benar.

“Game ini berfungsi untuk membantu terapi anak diseleksia biar dapat membaca sebuah kata.” tuturnya.

 

Dimas mengaku, sebelumnya aplikasi permainan buatannya memang sudah ada namun yang membedakan adalah rentang umur yang ditargetkan dan level permainannya. Untuk aplikasinya ini, Dimas menargetkan anak diseleksia dengan rentang umur 7 sampai 12 tahun, dengan bentuk permainan menemukan sebuah suku kata.

 

“Kebanyakan sudah ada untuk umur awal 5 sampai 6 tahun game-nya seperti memindah gambar  balok, tapi ini menemukan sebuah suku kata dan ditujukan untuk anak umur 7 hingga 12 tahun.” Ujarnya.

 

Tidak hanya berhenti hanya pada proses menciptakan saja, namun aplikasi permainan buatan Dimas tersebut juga sudah melalui proses uji coba untuk terapi pada 10 anak. Pada tahap awal, Dimas mengatakan  dilakukan pre test seperti, diharuskan membaca satu paragraph penuh, kemudian dilakukan penilaian atau scoring berapa banyak kata yang salah saat dibaca, setelah itu kesepuluh anak tersebut diminta bermain Dyslexia Game, lalu di test lagi dengan membaca paragraf yang sama dan di nilai lagi, hasilnya dari yang semula kesalahannya 5 kata setelah bermain game kesalahannya menurun menjadi 3 kata. (Randie)



Terkait


1 Komentar :


  • This event will allow realizing new ideas in line with the planned project. This training will provide such valuable experience for each participant.

Isi Komentar :