Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Literasi digital media di Indonesia masih rendah


Jumat, 09 Juni 2017 - 16:39:41 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 76 kali


Beberapa kondisi yang muncul di era digital media telah menjadi sorotan bagi kalangan praktisi dan akademisi dibidang komunikasi. Perubahan besar yang terjadi di era digital media saat ini ternyata tidak hanya membawa dampak positif, namun dampak negatif yang harus dihadapi masyarakat Indonesia saat ini yang masih belum “melek” media.

Dalam kuliah tamu ilmu komunikasi di Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr.S. Bekti Istiyanto,S.Sos.,M.SI mengatakan, literasi media dan digital media di Indonesia masih sangat rendah. Ia mengungkapkan beberapa kondisi yang muncul di era digital saat ini sangat beragam, seperti prostitusi online, dimana saat ini seseorang sudah tidak lagi dapat mengaksesnya secara terbuka karena lokalisasi yang telah resmi ditutup, namun sekarang justru dapat diakses di media online.

Tidak hanya itu, dalam penelitiannya di Purwokerto, ia menemukan sejumlah anak sekolah dasar (SD) dan Sekolah menengah Pertama (SMP) menyimpan video, gambar dan hal-hal yang mengandung unsur pornografi dalam memori ponselnya. Hal tersebut ditemukan saat di cek oleh pihak guru disekolahnya.

Sementara dalam skala global, berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dari total 132,7 juta pengguna internet, Indonesia masuk dalam 4 besar pengakses situs pornografi, bahkan peringkat Indonesia semakin naik diurutan ketiga di tahun yang sama.

Di sisi lain, dampak negatif dari digital media saat ini adalah munculnya informasi yang tidak bisa dipercaya kebenarannya atau dikenal dengan sebutan hoax. Bekti menyampaikan, bahwa semua informasi yang tidak dapat dirunut kebenarannya adalah hoax “imbuhnya”.

Bekti menambahkan kehadiran digital media juga membawa dampak yang signifikan terhadap pelaku iklan. Berdasarkan informasi dari salah satu pengurus Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) wilayah Yogyakarta, periklanan khususnya media luar ruang saat ini diambang kematian. Jika dulu media tradisional  menjadi hal yang hebat, namun hal tersebut berbanding terbalik, media luar ruang semakin mengalami kebangkrutan, karena saat ini semua sudah beralih ke media baru. (Randie)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :