Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Karya Tulis Bahasa dan Budaya Saluan Oleh Valentino Pamolango


Kamis, 13 April 2017 - 13:11:32 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 182 kali


Valentino Pamolango, S.S.,M.Hum, dosen Fakultas Sastra (FS) UNTAG Surabaya menulis buku tentang bahasa dan budaya Saluan. Tawaran ini datang dari Bupati Banggai, Sulawesi Tengah Herwin Yatim.

Kepada warta17agustus.com, Valen, mengungkapkan bahwa dalam budaya Saluan banyak hal yang menarik. Seperti suku lain di Indonesia, suku Saluan mempunyai tarian khas, adat istiadat, dan bahasa. Tetapi, tak banyak masyarakat yang tahu tentang budaya suku Saluan, karena letaknya di wilayah gunung.

“Saya lahir di suku Saluan, Banggai, Sulawesi Tengah. Untuk penulisan bukunya sendiri mulai awal tahun 2017 ini,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, karena suku Saluan tinggal di wilayah gunung menyebabkan mereka kurang berinteraksi dengan masyarakat daerah lain. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, mereka harus turun sampai tengah gunung. Sistem pendagangannya masih ada yang menggunakan sistem tukar-menukar barang atau barter.

“Karena lokasi yang jauh di atas gunung itu pula, sarana pendidikan belum memadai. Akibatnya, banyak anak suku Saluan yang meninggalkan kampung dan pindah ke Luwuk untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Akibatnya, bahasa anak-anak tersebut tercampur sehingga ”Saluan”-nya hilang,” tambah Valen.

Karena itu, kata Valen, bupati Banggai, Sulawesi Tengah berupaya melestarikan kekayaan daerah. Termasuk bidang bahasa. Harapannya, bahasa Saluan tetap bisa dipelajari sampai generasi berikutnya. Jangan sampai tidak ada lagi yang menggunakan, lantas bahasa tersebut punah.

“Saya senang karena mendapatkan kepercayaan untuk melestarikan kekayaan bahasa Nusantara, khususnya yang ada di Sulawesi Tengah, bisa tersalurkan,” ucapnya.

Valen berharap semakin banyak generasi muda yang peduli akan budaya lokal. Sekarang ini banyak anak yang bangga karena mereka bisa menguasai banyak bahasa asing, tetapi tidak bisa berbahasa daerah. “Padahal, keduanya sama penting,” tegas Valen.(K-Nan)







Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :