Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

UNTAG Surabaya Selenggarakan Kuliah Tamu Tentang Bahaya Berita Hoax dan Intimidasi Politik


Selasa, 21 Maret 2017 - 13:18:43 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 403 kali


 

UNTAG Surabaya menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “The Landscape of America Media : Facing the Dangers of Hoaxes and Political Intimidation”. Kuliah tamu yang bertempat di Gedung Graha Wiyata lantai 9 ini mengundang guru besar sekaligus jurnalis dari Arizona State University USA, Prof. Dan Howard Fellner, Ph.D, Selasa (14/03/2017).

Di dunia media saat ini terdapat 3 jenis kontrol terhadap media, yaitu bebas (free), bebas sebagian (partially free), dan tidak bebas. Indonesia dan Amerika Serikat termasuk 2 negara dengan kontrol media yang bebas (free). Akan tetapi, ada sebuah perbedaan antara Indonesia dan Amerika Serikat mengenai kepemilikan media. Di Indonesia, media dimiliki oleh para politikus dan orang-orang politik. Sedangkan, di Amerika Serikat media tidak tersentuh politikus.

“Pemerintah Amerika Serikat tidak diperkenankan memiliki perusahaan media. Presiden AS Donald Trump yang memiliki banyak perusahaan, tetapi dia bukan pemilik perusahaan media,” ucap  Prof. Dan Howard Fellner saat mengisi kuliah tamu dengan memakai baju batik UNTAG Surabaya itu.

Lebih lanjut dia mengatakan, di Amerika Serikat dengan kemenangan Donald Trump justru memperburuk media. Donald Trump menganggap seluruh berita yang tidak berpihak kepadanya sebagai fake news dan inilah yang disebut dengan kediktatoran.

“Di era digital ini, fake news lebih cepat berkembang. Apalagi didorong dengan berkembangnya internet (social media). Inilah yang bisa memecah bangsa. Di samping itu, beberapa orang yang ahli dalam membuat berita justru bisa mendorong fake news seolah-olah berita bohong tersebut benar,” jelas Prof. Dan Howard Fellner.

Di akhir kuliah tamunya, Prof. Dan Howard Fellner memberikan beberapa solusi agar tidak mudah mempercayai berita hoax. Adapun solusi yang dia berikan adalah tidak perlu ada hukum baru, karena bisa berpengaruh buruk terhadap kebebasan berbicara. Berikutnya sering membaca, karena koran lebih bisa dipercaya.

“Masyarakat harus lebih edukatif, tidak boleh cepat percaya terhadap sebuah berita. Selain itu, para politikus harus cepat tanggap terhadap berita "hoax" yang menimpa mereka agar tidak berkelanjutan, dan yang terakhir koran dan warta berita harus lebih objektif dan adil dalam membuat berita,” tutup tenaga ahli yang didatangkan melalui program Fulbright Specialist itu.(Latifah)





Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :