Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Cybertroop Media, Prasangka dan Perilaku


Kamis, 05 Januari 2017 - 08:07:28 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 224 kali


Media massa atau media sosial sangat mempengaruhi opini publik, dalam bidang hukum itu dikenal dengan istilah pre judicial pers atau prejudicial media yaitu penghakiman oleh media massa atau media sosial. Apabila ini dilakukan secara terencana, sistimatis untuk menghancurkan sesuatu inilah yang dikenal sebagai Cybertroop kata Prof. Drs.  Koentjoro  Soeparno, Mbsc. PhD, Psikolog, pemateri Seminar Nasional Cybertroop ILMPI wilayah V bersama BEM Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya.

" Perubahan Sosial saat ini menghasilkan perubahan ibarat bola salju. " Ucap Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang saat itu menyampaikan materi mengenai Media, Prasangka dan Perilaku Massa.

Tonggak dimulainya Globalisasi adalah saat Revolusi Industri di Inggris ditemukanya mesin telegraf. Globalisasi ditengarai oleh revolusi 4 T yaitu Telekomunikasi, Transportasi, Turisme dan Transparansi.

Prof Koentjoro melanjutkan, " Komunikasi Massa saat ini terbagi menjadi 2 bagian, terdiri dari proses penyampaian pesan (informasi/gagasan) kepada orang banyak (publik) melalui media, yakni media cetak (koran, majalah, tabloid,dll.), media elektronik (televisi, radio) dan media siber (cyber media, media online, internet, dll) dan yang kedua mengenai Karakter Komunikasi massa, sifat komunikasinya itu tidak langsung, searah, terbuka dan memiliki cakupan geographis yang tersebar meluas "

Ada 6 ciri-ciri massa yaitu kekanak-kanakan, perlu pemenuhan segera tidak dapat ditunda, terjadi de individuasi, memiliki daya hipnose yang sangat hebat, pemimpin massa bukanlah pemimpin formal namun siapa saja yang bagus perintahnya diikuti, jiwa massa terbentuk tidak tiba (tiba namun melalui proses).

Kita hatus memiliki Pengetahuan, pengetahuan yang dimaksud disini adalah kumpulan Informasi yang tersusun sedemikian rupa yang memberi atau diberi makna oleh penerimanya hingga menjadi sebuah pengetahuan atau sikap atau keyakinan. Dengan adanya pengetahuan ini kemudian memunculkan sikap (setuju/tidak setuju dan atau suka/tidak suka). Maka dengan semakin dekatnya norma subjektif maka akan semakin diterima dan dapat menjadi nilai.

" Informasi yang tidak urut, runtut dan terpotong-potong akan memunculkan prasangka. Adanya prasangka akan memunculkan cognitif bias dan jarak sosial. Dimana media massa atau media sosial mempengaruhi opini publik. Agar tidak memunculkan prasangaka, jadilah orang yang berpengatahuan, dimana kita bisa belajar mengenai komunikasi massa dan perilaku massa dari beberapa kasus yang saat ini mencuat di media sosial yaitu kasus Ahok, kasus Jessica, belajar dari peristiwa 411 dan peristiwa 212. " Ujarnya

" Agar tidak terjebak dalam prasangka memunculkan cognitif bias dan jarak sosial, kita harus mampu membedakan fakta dengan analisa, tidak menilai dan menghakimi namun memahami dan mencari sumber utama beritanya " pesan Prof Koentjoro.(Latuifah)





Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :