Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Orang Tua Perlu Menerapkan Pola Secure Attachment untuk Menghindarkan Anak Dari Perilaku Negatif


Selasa, 03 Januari 2017 - 09:40:39 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 152 kali


Greace Lady Mamuaya mahasiswa Fakultas Psikologi Strata 1 UNTAG Surabaya meneliti tentang ‘Kecenderungan Melakukan Hubungan Seks Pranikah pada Remaja Ditinjau dari Pola Attachment dengan Orangtua’. Penelitian lady ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kecenderungan melakukan seks  pranikah bila ditinjau dari pola kelekatan, selain itu juga dapat membantu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai upaya mengatasi masalah seks pranikah pada remaja dan dengan diketahui factor penyebab seks dapat diberikan solusi yang tepat untuk para remaja.

Masa remaja merupakan masa yang sangat menarik untuk dibicarakan, karena masa remaja merupakan masa dimana individu mencari identitas dan jati diri sehingga para remaja sering dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah, baik itu masalah perkembangan maupun masalah pada lingkungan sosial. Pada masa tersebut individu berusaha melepaskan diri dari pertolongan dan perlindungan orangtua dan belajar untuk bertanggung jawab, berdiri sendiri dan berpikir matang.

Berbagai fenomena perilaku remaja yang semakin memprihatinkan dan mencemaskan masyarakat terjadi di berbagai kota besar, mulai dari membolos sekolah, merokok, minum minuman keras, aksi tawuran layaknya preman atau terlibat dalam penggunaan napza, terjerumus dalam kehidupan seksual pranikah, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lainnya. Salah satu permasalahan remaja yang sangat mencemaskan saat ini adalah masalah perilaku seksual di kalangan remaja.

" Banyaknya masalah yang sensitif dan rawan, tidak hanya menyangkut segi moral semata tetapi juga etika, agama dan latar belakang sosial ekonomi. Hal ini sangat memprihatinkan generasi muda dan tentu akan memunculkan kekhawatiran bagi semua pihak, orangtua maupun masyarakat. " Ucap mahasiswi asal Kota Menado.

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 126 orang terdiri dari 33 Siswa SMP, 33 Siswa SMA dan 33 Siswa SMK kelompok eksperimen berjumlah 8 orang yang terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan, kelompok kedua adalah kelompok kontrol berjumlah 8 orang yang juga terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan. Menggunakan model skala Likert, yaitu berupa sejumlah daftar pernyataan tertulis yang disusun dan disebarkan kepada subyek penelitian yang diminta untuk mengisi sesuai dengan diri pribadi atau menggambarkan keadaan subyek yang sebenarnya. Skala yang yang dimaksud ini ada dua macam, yaitu skala perilaku seksual pranikah dan skala kelekatan.

Lady melanjutkan, berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecenderungan melakukan hubungan seks pranikah ditinjau dari pola attachment. Hal ini berarti pola attachment antara orangtua dan anak pada masa bayi dan kanak-kanak dapat mempengaruhi tingkat kecenderungan melakukan hubungan seks pranikah pada saat anak berada pada masa remaja. Pola secure attachment memiliki tingkat kecenderungan melakukan hubungan seks pranikah paling rendah dibandingkan dengan pola attachment ambivalent or resistant dan pola attachment avoidant.

Mahasiswi yang aktif di Unit Pelayanan & Konsultasi Psikologi (UPKP) Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya dari hasil penelitiannya memberikan saran kepada remaja dan orang tua.

" Dari hasil penelitian ini saya menyarankan bagi remaja agar lebih mendekatkan diri dengan orangtua, lebih terbuka, menceritakan segala sesuatu yang terjadi kepada orangtua dan membangun kepercayaan bahwa orangtua merupakan figur utama yang dapat menolong ketika remaja dihadapkan dengan sebuah permasalahan. Dan bagi orang tua diharapkan agar dapat menerapkan pola secure attachment, yaitu memberikan perasaan yang aman dan nyaman kepada anak ketika berada di dekat orangtua, meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita dan berdiskusi dengan anak, selalu ada dan siap ketika anak membutuhkan pertolongan, dapat menjadi orang pertama yang dapat dipercaya dan lebih memperhatikan lingkungan pergaulan anak di luar lingkungan keluarga, sehingga remaja dapat berkembang menjadi individu yang berkualitas dan terhindar dari perilaku yang negatif. " tutup Lady.(Latifah)







Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :